- Home
-
- Luar Negeri
-
- Hiroshima Desak Negara-neg...
Hiroshima Desak Negara-negara Menghapus Kepemilikan Senjata Nuklir
Kamis, 06 Agu 2026, 20:45 WIBHiroshima â Kota Hiroshima, Jepang, pada Kamis (6/8), mendesak para pemimpin dunia untuk mempercepat penghapusan senjata nuklir di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Seruan itu disampaikan saat Hiroshima memperingati 81 tahun tragedi pemboman atom oleh Amerika Serikat (AS), yang hingga kini menjadi simbol dampak kemanusiaan dari penggunaan senjata nuklir.
Wali Kota Hiroshima Kazumi Matsui, dalam Deklarasi Perdamaian yang dibacakan pada upacara peringatan tahunan, menyesalkan bahwa senjata nuklir masih digunakan oleh negara-negara besar sebagai "alat intimidasi" dalam konflik internasional.
âMengabaikan kekejaman senjata nuklir dan menerima penggunaan kekerasan untuk mengejar kemakmuran sendiri berisiko memicu siklus pembalasan kekerasan yang pada akhirnya dapat mengakibatkan Hiroshima atau Nagasaki lainnya,â kata Matsui.
Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan global, termasuk perang yang dipimpin AS terhadap Iran, invasi Russia ke Ukraina, serta kegagalan Konferensi Peninjauan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) menghasilkan dokumen konsensus.
Matsui mengingatkan para pembuat kebijakan bahwa penggunaan senjata nuklir dalam bentuk apa pun akan menimbulkan kehancuran besar bagi umat manusia.
âTentu Anda memahami bahwa penggunaan senjata nuklir apa pun akan menimbulkan kerusakan dahsyat bagi umat manusia, dan bahwa non-proliferasi serta pelucutan senjata nuklir hanya dapat dicapai melalui upaya multilateral. Anda pasti menyadari pentingnya memberi contoh,â ujarnya.
Upacara peringatan diawali dengan mengheningkan cipta pada pukul 08.15 waktu setempat, tepat ketika bom uranium yang dijatuhkan pesawat pembom AS Enola Gay meledak di atas Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Serangan tersebut menewaskan sekitar 140.000 orang hingga akhir tahun 1945.
Dalam pidatonya, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan negaranya tetap berpegang pada tiga prinsip non-nuklir, yakni tidak memproduksi, tidak memiliki, dan tidak mengizinkan senjata nuklir berada di wilayah Jepang.
Sebagai satu-satunya negara yang pernah mengalami serangan bom atom dalam perang, Jepang, menurut Takaichi, memiliki tanggung jawab moral untuk terus memperjuangkan dunia yang bebas dari senjata nuklir.
âMeskipun konferensi peninjauan tersebut menunjukkan bahwa mewujudkan penghapusan senjata nuklir adalah hal yang sulit, kita tidak boleh menghentikan perjalanan kita,â kata Takaichi.
Matsui menilai kegagalan Konferensi Peninjauan NPT mencerminkan lemahnya komitmen politik negara-negara pemilik senjata nuklir.
Ia menyebut para pemimpin dunia masih cenderung menyalahkan pihak lain untuk membenarkan kebijakan masing-masing, sehingga menghambat upaya pelucutan senjata.
âKata-kata dan tindakan mereka mengguncang fondasi perdamaian dan stabilitas global sambil mengabaikan kewajiban yang ditetapkan oleh NPT,â ujarnya.
Mengedepankan Dialog
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan bahwa norma internasional yang selama ini mencegah bencana nuklir semakin terancam.
Dalam pernyataan yang dibacakan Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Perlucutan Senjata Izumi Nakamitsu, Guterres mengatakan "pedang nuklir kembali dikibaskan atas nama kekuasaan dan paksaan."
Ia menyerukan komunitas internasional untuk mengedepankan dialog dan kerja sama dibanding konfrontasi.
âPilihlah dialog daripada perpecahan, kerja sama daripada konfrontasi, dan keamanan bersama daripada keuntungan sempit,â demikian pesan Guterres.
Di akhir pidatonya, Matsui juga mengajak generasi muda meneruskan perjuangan para hibakusha atau penyintas bom atom yang jumlahnya terus berkurang.
Ia berharap penghapusan senjata nuklir menjadi norma yang diterima masyarakat internasional sekaligus mendesak Pemerintah Jepang berpartisipasi sebagai pengamat dalam Konferensi Peninjauan Perjanjian Pelarangan Senjata Nuklir yang akan digelar pada November mendatang.
Jepang hingga kini belum menjadi pihak dalam perjanjian tersebut karena masih bergantung pada payung nuklir AS sebagai bagian dari strategi pertahanannya.
Tiga hari setelah Hiroshima dibom, AS menjatuhkan bom atom kedua di Nagasaki pada 9 Agustus 1945. Enam hari kemudian, Jepang menyerah kepada Sekutu, yang menandai berakhirnya Perang Dunia II.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.