Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Harga Pangan Makin Tajam di Indonesia Timur, Ini Respons Bapanas

📅 Jumat, 16 Mei 2025, 20:36 WIB | Oleh: Tim Penulis
Harga Pangan Makin Tajam di Indonesia Timur, Ini Respons Bapanas Doc: Istimewa.
Ket. Ilustrasi - Pasar Oesao di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur,

JAKARTA - Tingginya harga komoditas pangan di wilayah Indonesia Timur berdampak besar, terutama pada rumah tangga miskin dan rentan. 

Kenaikan harga pangan dapat menyebabkan penurunan asupan gizi, masalah kesehatan, dan ketidakmampuan untuk membeli kebutuhan lainnya. Dampak ini juga dapat memperparah masalah ketahanan pangan dan inflasi di wilayah tersebut. 

Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengumpulkan para pemimpin provinsi-provinsi di Indonesia Timur dan para pemangku kepentingan terkait untuk membahas tantangan dan solusi terkait tingginya harga komoditas pangan di wilayah tersebut.

“Melalui rapat ini kita mengupayakan bagaimana menstabilkan harga di wilayah Timur, khususnya Papua dan Maluku, karena memang harga di sana relatif lebih tinggi dari harga acuan,” kata Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa saat ditemui di Kantor Bapanas Jakarta, Jumat (16/5).

Berdasarkan data yang dipaparkan pada rapat koordinasi tersebut, cabai merah keriting dibandrol di harga Rp76.923 hingga Rp100.625 per kg di Indonesia Timur, atau jauh di atas Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp37.000 hingga Rp55.000 per kg.

Lebih lanjut, harga cabai rawit merah di Papua Tengah dihargai di kisaran Rp87.682 per kg hingga Rp118.214 per kg. Ini juga jauh di atas HAP senilai Rp40.000 hingga Rp57.000 per kg.

Sementara, harga bawang merah paling tinggi wilayah Indonesia Timur dipegang oleh Provinsi Papua Selatan dengan Rp64.375 per kg, padahal HAP yang ditetapkan adalah senilai Rp36.500 hingga Rp41.500 per kg.

Lebih lanjut, Astawa mengatakan salah satu penyebab tingginya harga beberapa komoditas pangan di wilayah Indonesia Timur adalah biaya transportasi.

Oleh karena itu, ia mengatakan diperlukan adanya sinergi dari para pemangku kepentingan terkait seperti Kementerian Perhubungan hingga pemerintah daerah untuk bisa mencari solusi dan menekan tingginya biaya transportasi serta distribusi komoditas pangan.

“Ini kita carikan solusinya, dan juga dari Kementerian Perhubungan yang sudah mengalokasikan tol laut dan udara, yang merupakan bagian dari subsidi pemerintah, dan pemerintah hadir untuk mengendalikan harga di wilayah Papua dan Maluku,” jelas Astawa.

Selain itu, Astawa juga mengatakan bahwa produsen pun siap untuk memasok komoditas pangan ke Indonesia Timur. Hal ini dikarenakan beberapa komoditas seperti telur ayam dan daging ayam di Jawa ia nilai oversupply dan swasembada.

“Sangat (siap), karena kita sudah swasembada. Telur kita oversupply kalau di Jawa, dan boleh dikatakan secara nasional kita swasembada, pun dengan daging ayam,” kata Astawa.

“Artinya, secara prinsip pemenuhan, katakanlah dari Sulawesi, katakanlah dari Jawa, pemenuhan untuk Papua pun cukup dan di Papua pun ada produksi juga di situ (untuk komoditas pangan lainnya),” imbuhnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Lotus Care Jadi Layanan Unggulan untuk Tuberkulosis

36 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Lotus Care Jadi Layanan Ung...

UI Tuan Rumah Rakor Humas Protokol Perguruan Tinggi

37 menit yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Rona
UI Tuan Rumah Rakor Humas P...
Megapolitan
Resmi Dimulai Kembali Jam B...
Megapolitan
Kabar Gembira bagi Warga, J...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Jaringan Mahasiswa Indonesia Bersatu Nilai Nanik S Deyang Belum Layak Jabat Kepala BGN

Jaringan Mahasiswa Indonesia Bersatu Nilai Nanik S Deyang Belum Layak Jabat Kepala BGN

05 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.