Digital Banking, Kanal Efektif untuk Membuka Akses Keuangan Masyarakat “Unbanked”

Kamis, 15 Mei 2025, 21:05 WIB

EKSPEKTASI publik akan layanan keuangan yang cepat, efisien, aman dan dapat diakses dari mana saja menjadikan transformasi digital di sektor perbankan sebagai suatu keniscayaan. Ekspektasi tersebut, menggeser lanskap (ruang lingkup) perbankan dari model operasional yang mengandalkan jaringan fisik seperti layanan kantor cabang dan jaringan ATM, beralih ke layanan digital melalui aplikasi yang bisa diakses dengan internet banking maupun mobile banking.

Seiring dengan tuntutan nasabah, pemain bank digital pun makin bermunculan. Hingga awal 2024 tercatat sudah sekitar 15 bank digital di Indonesia, setelah, PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) sebagai salah satu pendatang baru meluncurkan layanan perbankan digitalnya, Krom. 

Ket. Foto: Presiden Direktur Krom Bank Indonesia, Anton Hermawan (kiri) dalam sebuah acara dengan media di Jakarta, beberapa waktu lalu. — Sumber: Budi

Pemegang saham Krom yaitu PT Fin Accel Teknologi Indonesia yang sebelumnya sebagai pemegang saham mayoritas PT Bank Bisnis Internasional Tbk (BSSI) mengubah nama entitas tersebut menjadi PT Krom Bank Indonesia Tbk yang selanjutnya meluncurkan layanan perbankan digital KROM.

Aplikasi bank digital KROM pertama kali diluncurkan di Google Playstore pada 23 Oktober 2023, disusul di APP Store pada 8 November 2023. 

Tingginya animo bank digital masuk ke industri jasa keuangan, karena masih banyak penduduk Indonesia yang belum memiliki akses ke perbankan. Data Bank Indonesia menunjukkan masih ada sekitar 48 persen penduduk Indonesia yang tidak memiliki akses ke perbankan atau unbanked.

Potensi tersebut sangat menggiurkan bagi bank-bank digital karena mereka menggarap segmen yang selama ini belum disentuh sama sekali oleh bank-bank konvensional. Meskipun dalam tiga tahun terakhir, bank-bank besar seperti Bank Mandiri, BNI, BRI dan CIMB Niaga telah bertransformasi dengan memperkuat layanan digital mereka menghadirkan super apps. 

Transformasi bank-bank papan atas ke layanan digital tersebut akhirnya meningkatkan tensi kompetisi layanan bank digital. Di tengah sengitnya kompetisi, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda berpendapat bank digital masih punya peluang yang relevan. Bahkan, kehadiran digital banking sudah berkontribusi signifikan terhadap peningkatan inklusi dan literasi keuangan.

Peningkatan itu kata Nailul Huda tidak terlepas dari dukungan nasabah dengan pola konsumsi mereka yang berubah dari off line ke on line. Perubahan pola itu membuat bank digital diminati masyarakat, terutama kelompok dengan rentang usia 17-34 tahun yang sangat melek teknologi.

“Kemudahan bank digital ditunjang dengan adaptasi teknologi yang cepat, membuat bank digital bisa menjadi primadona bagi kaum muda,” katanya.

Apabila bank digital terus melakukan inovasi layanan dengan menghadirkan fitur-fitur terbaru, maka persentase masyarakat yang menggunakan akun bank digital papar Nailul semakin bertambah.

Pernyataan Nailul Huda mengenai prospek digital bank itu terbukti dengan melihat data transaksi pada November 2024. Transaksi dengan layanan digital bank tumbuh signifikan 40,1 persen per November 2024 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya atau year on year (yoy).

Pertumbuhan itu mayoritas dikontribusikan pengguna layanan digital banking yang rata-rata berasal dari Gen Z dan milenial.

Atas torehan transaksi tersebut, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pengguna bank digital dalam tren pertumbuhan yang berkelanjutan. Otoritas sistem pembayaran itu memproyeksikan pengguna transaksi digital pada 2025 akan melonjak 52,3 persen secara yoy yang didorong kenaikan volume transaksi B-Fast yang diperkirakan tumbuh 34,1 persen.

Executive Director Ipsos Indonesia, Andi Sukma dalam hasil survei lembaganya baru-baru ini menyebutkan tiga layanan yang paling sering digunakan nasabah saat bertransaksi dengan layanan bank digital, yaitu top up e-wallet yang mencapai 76 persen, kemudian pembayaran menggunakan QRIS sebanyak 71 persen, dan transfer antarbank 70 persen.

Berdasarkan data Bank Indonesia per Januari 2025, pembayaran dengan menggunakan layanan digital sudah mencapai 3,5 miliar transaksi atau tumbuh 35,3 persen secara tahunan (yoy) yang didukung seluruh komponennya.

Volume transaksi pada aplikasi mobile banking dan internet banking juga terus meningkat masing-masing 29,7 persen (yoy) dan 19,8 persen (yoy). Begitu juga dengan volume transaksi pembayaran digital melalui QRIS tetap tumbuh pesat sebesar 170,1 persen (yoy) yang didukung peningkatan jumlah pengguna dan merchant.

Pertumbuhan Impresif

Salah satu pendatang baru, Krom Bank Indonesia (Krom Bank) pada tahun 2024 juga menunjukkan performa yang apik. Krom Bank tumbuh impresif dalam menjalankan fungsi intermediasi dengan baik. 

Presiden Direktur Krom Bank, Anton Hermawan dalam pernyataan tertulisnya beberapa waktu lalu menyatakan Krom Bank pada 2024 berhasil menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 3,16 triliun rupiah, atau tumbuh fantastis 808,84 persen dibanding tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 347,56 miliar rupiah.

“Pertumbuhan jauh melampaui rata-rata industri perbankan nasional menunjukkan keberhasilan strategi penghimpunan dana yang dijalankan oleh Krom Bank,” kata Anton.

Seperti diketahui, Krom Bank dalam mengajak nasabah menempatkan dananya menggunakan tagline “Yuk, mulai tumbuhkan uangmu dengan Krom“. Alhasil, tabungan pun melonjak luar biasa 1.045,34 persen menjadi 496,14 miliar rupiah. Begitu juga deposito yang melesat tajam 788,06 persen menjadi 2,65 triliun rupiah.

“Pertumbuhan signifikan pada tabungan dan deposito ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap Krom Bank semakin meningkat, sekaligus menjadi landasan kokoh bagi bank dalam memperluas kegiatan intermediasinya,” sebut Anton.

Seiring dengan lonjakan DPK, penyaluran kredit Krom Bank meningkat sangat signifikan menjadi 4,25 triliun rupiah atau tumbuh 131,46 persen dibandingkan tahun 2023 sebesar 1,83 triliun rupiah. 

“Pertumbuhan kredit yang masif ini mencerminkan optimalisasi dari sisi aset produktif, dan memperkuat peran intermediasi bank sebagai penyalur dana kepada sektor ekonomi,” kata Anton. 

Tingkatkan Literasi

Performa bank digital dalam beberapa tahun terakhir hasilnya tidak hanya tercermin pada kinerja keuangan, tetapi yang paling bernilai bagi perekonomian adalah penetrasi layanan digital banking yang mampu meningkatkan indeks literasi dan inklusi keuangan. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) saat mengumumkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menyebutkan indeks literasi keuangan mencapai 66,46 persen dan indeks inklusi keuangan 80,51 persen. 

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi mengatakan hasil SNLIK 2025 itu meningkat dibanding SNLIK 2024 yang menunjukkan indeks literasi keuangan 65,43 persen dan indeks inklusi keuangan 75,02 persen.

“Berdasarkan sektor jasa keuangan, indeks literasi dan inklusi keuangan masih ditopang paling tinggi oleh sektor perbankan, yakni sebesar 65,50 persen dan 70,65 persen,” kata Friderica.

Dari pemaparan data-data perubahan perilaku masyarakat sebagai konsumen dan nasabah yang semakin antusias menggunakan layanan transaksi digital banking, maka lanskap perbankan nasional pun secara perlahan mulai bergeser. Bank-bank dalam menjalankan fungsi intermediasi akan lebih tersegmentasi. Dominasi bank-bank konvensional dengan modal yang besar dan kuat akan lebih mengarah ke segmen korporat. 

Sedangkan, bank digital akan lebih banyak menyasar segmen retail, konsumer dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Digital Banking pun akan menjadi kanal yang efektif dalam menerobos dan membuka akses keuangan kepada kelompok masyarakat unbanked. Dengan terbukanya akses yang selama ini buntu tersebut, masyarakat unbanked tersebut secara perlahan bisa meningkatkan taraf kehidupan mereka menjadi lebih baik.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Vitto Budi

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.