Serabi yang membuka koridor diplomasi lewat kuliner Pulau Lombok
📅 Selasa, 13 Mei 2025, 16:45 WIB | Oleh: Sujar
Doc: ANTARA/Sugiharto Purnama
Mataram, 13/5 (ANTARA) - Beras memainkan peran penting dalam berbagai olahan kuliner lokal masyarakat suku Sasak yang mendiami Pulau Lombok di Nusa Tenggara Barat. Menu makanan berat hingga camilan tradisional menempatkan beras sebagai bahan baku utama.
Ketergantungan masyarakat di Bumi Gogo Rancah (Bumi Gora) atau Bumi Padi Lahan Kering, sangat tinggi.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut hampir semua wilayah di Pulau Lombok punya lahan untuk menanam padi. Pada 2024, Pulau Lombok menghasilkan gabah kering giling sebanyak 785.927 ton atau setara 54,07 persen dari total produksi padi di Nusa Tenggara Barat yang mencapai 1,45 juta ton.
Setiap makanan yang tersaji selalu punya cerita dan nilai-nilai unik yang disampaikan lewat rasa manis, pedas, asin, gurih, asam hingga pahit. Makanan adalah jendela untuk memahami sejarah dan kebudayaan yang ada pada semua peradaban umat manusia.
Melalui makanan, pemerintah Indonesia membuka koridor diplomasi untuk membangun dan mempererat hubungan baik antar negara. Cita rasa kuliner adalah bahasa universal yang mengungkapkan kehangatan dan keramahan penduduk lokal secara sederhana tanpa perlu diterjemahkan melalui kata-kata puitis.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada 8-11 Mei 2025, Indonesia Gastrodiplomacy Series berlangsung di Pulau Lombok yang melibatkan 38 delegasi dari berbagai kedutaan dan atase negara asing di Indonesia. Mereka berkeliling ke berbagai daerah, seperti Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, dan Kabupaten Lombok Tengah untuk mencicipi aneka makanan hingga mengenal tradisi masyarakat suku Sasak.
Staf Ahli Kementerian Luar Negeri Bidang Sosial Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia di Luar Negeri, Heru Hartanto Subolo, mengatakan para delegasi asing dari 27 negara tersebut sangat mengagumi peninggalan budaya dan keramahtamahan masyarakat di Pulau Lombok.
Instrumen diplomasi yang menggunakan kuliner sebagai alat promosi diharapkan dapat menjembatani langkah selanjutnya dalam bidang ekonomi, pendidikan, pariwisata, budaya, maupun politik. Ragam kuliner yang tertancap ke setiap pengecap lidah adalah bentuk kearifan lokal yang harus terus dirawat agar selalu lestari.
Sepiring serabi
Atukk Ayu dengan hati-hati membuka tutup pemanggang serabi yang terbuat dari tanah liat. Badannya lantas sedikit membungkuk mengamati kue serabi yang sedang dipanggang menggunakan api kayu bakar.
Aroma wangi beras dan santan kelapa yang dipanggang berhamburan ke segala arah. Puluhan delegasi asing yang ikut dalam program Indonesia Gastrodiplomacy Series itupun satu per satu mendekat mengamati cara Atukk memasak serabi.
"Silahkan mencicipi serabi, dimakan dengan parutan kelapa dan saus gula merah," ucap perempuan berusia 61 tahun tersebut sambil terus memanggang kue serabi untuk menjamu para delegasi asing yang datang ke Museum Negeri Nusa Tenggara Barat.
Setiap piring berisi kue serabi yang disuguhkan Attuk merepresentasikan sumber daya alam dan budaya berladang masyarakat suku Sasak.
Bahan-bahan utama penyusun serabi adalah tepung beras, santan kelapa dan parutan daging kelapa, serta gula merah dari pohon aren. Tiga komponen bahan tersebut merupakan komoditas pertanian potensial yang dihasilkan oleh Nusa Tenggara Barat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!