Review Jujur “Jumbo” Antara Kritik dan Keajaiban Animasi Lokal
📅 Minggu, 04 Mei 2025, 18:47 WIB | Oleh: OpikAda yang bahkan menyanjung Tim Visinema karena jeli memilih pengisi suara; suara Ariel NOAH dan Bunga Lestari digambarkan termasuk pas memerankan sosok orang tua Don.
Singkat kata, dalam aspek visual dan audio Jumbo memanjakan penonton, memberikan hiburan keluarga yang energik. Sesuatu yang baru dari anak bangsa bagi penonton di Indonesia.
Kedalaman cerita
Sayangnya keunggulan visual dan prestasi box office ini terasa belum sepenuhnya diimbangi dengan kedalaman cerita.
Sebaiknya Anda baca juga:
Beberapa pengamat menyoroti kelemahan alur dan pengembangan karakter dalam Jumbo. Termasuk keterkaitan antara ide dongeng Ksatria Gelembung, sebutan nama Jumbo, dan Don.
Bahkan juga, banyak yang menganggap kehadiran elemen gaib, peri Meri, tiba-tiba memaksakan logika cerita.
Seperti banyak dibahas dalam forum diskusi film di sosial media, “kehadiran sosok Meri membuat cerita mengganjal” dan terasa “dipaksakan” karena konflik utama berubah drastis dari persaingan anak-anak menjadi petualangan supernatural.
Sebaiknya Anda baca juga:
Konflik iri Atta kepada Don yang awalnya sederhana tiba-tiba membawa tokoh-tokoh menyelamatkan arwah orang tua, sehingga kronologi cerita terkesan terburu-buru.
Kritikus lain mengamati, resolusi konflik Atta pun terlalu cepat dengan penyesalan dan rekonsiliasi antara Don dan Atta diselesaikan dangkal dalam hitungan menit, padahal konflik itu sejatinya hati-hati didramatisasi.
Penonton seolah tidak diberi waktu cukup meresapi emosi Don dan Atta, seakan cerita langsung melompat ke babak penutup tanpa pembinaan konflik memadai.
Pengembangan karakter pendukung juga dikritik kurang menyeluruh. Ada kritikus yang menyebut hanya Don dan Atta yang mendapat ruang eksplorasi luas, sedangkan tokoh lain seperti Nurman, Mae, dan Oma Don kurang “bernyawa” dalam penggambaran emosi.
Misalnya, kehadiran Nurman, terasa seperti tempelan saja. Ekspresinya nyaris datar, padahal potensi karakternya sebagai sahabat kreatif Don bisa dieksplor lebih jauh. Coba perhatikan saja bagaimana mimiknya hampir tidak berubah sepanjang film. Begitu pula Nenek Don yang lebih sering jadi figur statis.
Karakteristik tokoh pendukung kerap hanya disampaikan lewat dialog singkat dan tidak tercermin dalam animasi ekspresif, sehingga penonton sulit benar-benar terhubung emosi dengan mereka.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!