Hashim Tegaskan Komitmen Transisi Energi Indonesia
📅 Jumat, 02 Mei 2025, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
Jakarta - Utusan Khusus Presiden RI untuk Iklim dan Energi Hashim S. Djojohadikusumo menegaskan komitmen kuat Indonesia dalam transisi energi global pada Bloomberg New Energy Finance (BNEF) Summit 2025.
“Melalui berbagai program strategis dan dukungan regulasi yang kuat, kami berkomitmen menciptakan iklim investasi yang kondusif serta mendorong pembangunan berkelanjutan yang inklusif,” ujar Hashim dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Rabu (30/4).
Seperti dikutip dari Antara, acara tersebut berlangsung di New York pada 29–30 April 2025. Dalam forum yang mempertemukan para pemimpin industri, keuangan, dan teknologi dari seluruh dunia, Hashim menyampaikan visi Indonesia untuk mencapai net-zero emissions pada tahun 2060 atau lebih cepat.
Ia juga menyoroti langkah konkret pemerintah dalam mengurangi emisi gas rumah kaca, termasuk pembangunan tambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 75 persen dari energi baru terbarukan.
Hashim juga menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia mengajak para pemangku kepentingan global untuk bekerja sama dalam pengembangan teknologi energi bersih dan investasi berkelanjutan, guna memastikan pertumbuhan ekonomi yang hijau, tangguh, dan inklusif bagi kepentingan bersama.
“Indonesia is open for business. Sebagai salah satu negara netral di dunia, dan berteman dengan semua, Indonesia menjadi negara yang aman terhadap kerja sama dan investasi global,” ujar Hashim.
Kehadiran Hashim sebagai Utusan Khusus Presiden RI untuk Iklim dan Energi dalam BNEF Summit 2025 untuk mencerminkan komitmen Indonesia dalam memainkan peran aktif di panggung global dalam isu-isu iklim dan energi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal ini juga sejalan dengan upaya pemerintah Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin dalam transisi ke energi bersih di kawasan Asia Tenggara.
Energi bersih
Lebih lanjut, pemerintah Indonesia resmi mengantongi pendanaan sebesar 60 juta dollar AS atau setara 994,68 miliar rupiah dari tiga mitra internasional guna membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Saguling di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Pendanaan tersebut berasal dari lembaga pembiayaan pembangunan Jerman (DEG), lembaga pembiayaan pembangunan Prancis (PROPARCO), dan Standard Chartered Bank asal Inggris.
"Investasi di PLTS Terapung Saguling bukan sekadar proyek pembangkit listrik tenaga surya. Ini merupakan simbol semangat kolaboratif antara Pemerintah Indonesia, masyarakat internasional, dan sektor swasta untuk mempercepat transisi menuju energi bersih sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Proyek ini merupakan bagian dari kemitraan Just Energy Transition Partnership (JETP) yang bertujuan mempercepat transisi energi bersih dan ramah lingkungan di Indonesia.
PLTS Terapung Saguling dikembangkan oleh PLN Indonesia Power bersama ACWA Power, dan memiliki kapasitas terpasang sebesar 92 megawatt peak (MWp).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!