RI Perlu Menggali Peluang Pertumbuhan di Tengah Tantangan Global
📅 Selasa, 29 Apr 2025, 01:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: antara
JAKARTA - Indonesia dituntut untuk menggali berbagaipeluang pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan ketidakpastian global yang semakin meningkat. Perlunya menggali peluang itu agar ekonomi RI tidak tumbuh di bawah proyeksi seperti disampaikan Dana Moneter Internasional (IMF) hanya di level 4,7 persen.
Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengatakan Indonesia sebenarnya memiliki modal yang cukup baik untuk menggali peluang di tengah tantangan global.
“Masih banyak berita baik dari Indonesia yang bisa kita lihat,” kata Yose dalam diskusi virtual bertajuk “IMF Memprediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2025-2026 Hanya 4,7 persen, Indonesia Bisa Apa? yang berlangsung di Jakarta, Senin (28/4).
Menurut Yose, modal pertama yang bisa digali adalah keterbukaan Indonesia terhadap diversifikasi dan relokasi investasi. Selain itu, Indonesia juga menginisiasi kerja sama kolektif dengan negara ASEAN yang mendapat respon positif dalam menghadapi dinamika global.
Pemerintah juga kata Yose memiliki program-program yang bisa meningkatkan permintaan, contohnya Makan Bergizi Gratis (MBG), asalkan program tersebut dieksekusi dengan baik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Modal lainnya adalah tingkat inflasi yang masih rendah. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indonesia pada Maret 2025 berada di level 1,03 persen (year-on-year/yoy) dibandingkan Februari yang mengalami deflasi 0,09 persen (yoy).
“Inflasi kita cukup rendah, sehingga sebenarnya bisa memberikan ruang untuk kebijakan yang sifatnya lebih ekspansif dan bisa mendukung perekonomian Indonesia lebih baik lagi,” tutur Yose.
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan optimismenya bahwa Indonesia tetap bisa mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen pada 2025, di tengah tekanan global serta koreksi target pertumbuhan dari Dana Moneter Internasional (IMF).
Sebaiknya Anda baca juga:
Optimisme itu mempertimbangkan kinerja ekonomi pada kuartal I-2025 yang diperkirakan akan masih tumbuh.
Biaya Investasi Tinggi
Peneliti Ekonomi Celios, Nailul Huda dalam kesempatan lain mengatakan, relokasi investasi bisa terjadi ketika iklim investasi dalam negeri sangat mendukung. Saat ini, iklim investasi di Indonesia memburuk karena biaya investasi yang tinggi. Biaya investasi tersebut bukan hanya dari sisi suku bunga kredit, tetapi juga dari masalah premanisme di lapangan.
“Segala bentuk pungutan liar (pungli), baik yang dilakukan oleh preman ataupun pejabat, merupakan cost bagi investor untuk berinvestasi di Indonesia. Biaya tersebut merupakan biaya yang seharusnya tidak ada, tapi dikeluarkan karena sebagai biaya perizinan tidak resmi,” kata Nailul.
Belum efisiennya ekonomi Indonesia itu membuat banyak investor yang berbalik arah ketika ingin berinvestasi di Indonesia. Premanisme seolah dibiarkan dan Pemerintah terkesan kalah dengan preman.
Selain itu, masalah human capital index yang kalah bersaing dengan negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Kapasitas SDM Indonesia dalam hal inovasi masih tertinggal dari dengan negara-negara tetangga.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!