Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bunyi dan Rasa Alunan Saluang dari Ngarai Sianok

📅 Rabu, 23 Apr 2025, 21:16 WIB | Oleh:

“Saya bukan orang terkenal. Bukan musisi besar,” kata Majuang sambil tersenyum. “Tapi kalau orang mendengar saluang, lalu hatinya tenang, lalu ia tahu ini suara dari Minangkabau, itu sudah cukup bagi saya.”

Di usia senja, dengan rambut yang mulai memutih dan napas yang tidak sekuat dulu, Majuang tetap hadir. Tidak setiap hari, tapi cukup sering untuk menjaga ritme alam di Ngarai Sianok tetap berdetak dengan alunan saluang. Dalam tiap tiupan, terselip doa, harapan, dan cinta pada budaya.

Dan ketika matahari mulai turun, cahaya keemasan membias di sela jurang, suara saluang kembali mengalun. Kali ini lebih dalam, lebih lambat, seperti mengantar hari menuju malam. Para wisatawan mulai meninggalkan lokasi, tapi Majuang masih meniup, mungkin untuk dirinya sendiri, mungkin untuk leluhur yang senantiasa mendengarkan.

Di sudut alam yang agung itu, musik bukan sekadar hiburan. Ia adalah warisan. Dan Majuang, dengan seluruh tubuh dan jiwanya, adalah penjaganya.

Saluang

Saluang adalah alat musik tradisional khas Minangkabau, Sumatera Barat, yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan budaya masyarakatnya selama berabad-abad.

Bentuknya tidak asing, terbuat dari bambu tipis (talang), saluang dimainkan dengan cara ditiup dan memiliki suara yang melankolis, mendayu, dan menyentuh hati. Alunan nada saluang kerap dianggap mampu membangkitkan rasa rindu, nostalgia, hingga kekhusyukan spiritual.

Berdasarkan informasi dari laman Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Saluang berasal dari kata saluiang dalam bahasa Minang, yang berarti bambu kecil atau bambu talang.

Menurut kepercayaan masyarakat, saluang tidak hanya sebagai alat hiburan, tetapi juga memiliki kekuatan magis yang dapat mempengaruhi perasaan pendengarnya. Bahkan, para pemain saluang terbaik diyakini memiliki ilmu atau pitunang yang membuat pendengarnya terhipnotis atau larut dalam suasana.

Saluang telah ada sejak masa nenek moyang orang Minangkabau dan biasa dimainkan dalam berbagai acara adat seperti pesta pernikahan, pertunjukan randai, dan malam hiburan nagari. Biasanya, saluang dimainkan berpasangan dengan dendang atau nyanyian khas Minang yang berisi pantun, petuah, atau curahan hati.

Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, saluang bukan hanya jadi alat musik, tapi juga media ekspresi budaya. Syair-syair dalam permainan saluang biasanya menyuarakan kritik sosial, kisah cinta, atau kearifan lokal. Beberapa jenis saluang yang terkenal antara lain Saluang Darek, Saluang Sirompak (yang dikaitkan dengan unsur magis), dan Saluang Pauah.

Di era modern, saluang tetap eksis meskipun bersaing dengan alat musik modern. Banyak seniman Minang yang berupaya melestarikan saluang melalui pertunjukan seni tradisi, festival kebudayaan, bahkan kolaborasi dengan musik kontemporer. Ant

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

1.5 jam yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Megapolitan
Mau Tawuran, Dua Pemuda Baw...
Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.