Dinas Pariwisata Kota Bima Menyatakan 17 Paguyuban Daerah Terlibat Festival Rimpu
📅 Selasa, 22 Apr 2025, 19:52 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
MATARAM – Dinas Pariwisata Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, menyatakan sebanyak 17 paguyuban daerah terlibat dalam penyelenggaraan Festival Rimpu yang dijadwalkan berlangsung pada 24–26 April 2025.
Kepala bidang Promosi dan Pemasaran Dinas Pariwisata Kota Bima, Buana Eka Putra mengatakan belasan paguyuban itu berasal dari berbagai etnis dan komunitas yang berdomisili di Kota Bima, seperti Medan, Ambon, Betawi, Sunda, Jawa, Bali, Lombok, Batak, Bugis, Padang, Manggarai hingga Tionghoa.
"Keikutsertaan mereka bukan hanya menjadi simbol harmoni sosial, tetapi juga menambah kekayaan warna budaya dalam perhelatan tersebut," ujarnya dalam keterangan di Mataram, Selasa (22/4).
Eka menuturkan mereka wajib mengenakan rimpu (jilbab khas perempuan Bima) dan nggoli (tenun khas Bima) saat mengikuti pawai budaya tersebut yang melalui rute Paruga Nae hingga Lapangan Serasuba. Bahkan, belasan paguyuban daerah itu juga menghadirkan suasana daerah asal mereka saat acara bazar kuliner dan ekonomi kreatif.
"Rute kami perpendek karena kami ingin semua peserta sampai garis akhir di Lapangan Serasuba saat ba'da Dzuhur. Tahun-tahun sebelumnya, peserta banyak yang tidak sampai di garis finis dan ada yang sampai saat ba'da Ashar," kata Eka.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain paguyuban, Festival Rimpu juga melibatkan ratusan elemen masyarakat yang terdiri dari berbagai organisasi masyarakat, organisasi profesi, organisasi kepemudaan, BUMN, perusahaan swasta, lembaga vertikal, sekolah, perguruan tinggi, hingga komunitas-komunitas lokal.
Mereka menampilkan aneka kreativitas yang diiringi musik tradisional khas Suku Mbojo dan tarian kolosal hingga kendaraan hias bertema adat dan budaya.
Festival Rimpu menghadirkan sejumlah acara hiburan, bazar kuliner dan produk ekonomi kreatif di Lapangan Serasuba, Kota Bima.
Sebaiknya Anda baca juga:
Setiap paguyuban diberi kesempatan untuk mendesain stan dengan ornamen khas daerah asal mereka dan menyajikan makanan tradisional mulai dari gudeg, rendang, pempek, sate lilit hingga kue keranjang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!