Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Perlu Perubahan Kurikulum Pendidikan untuk Cegah Tenaga Kesehatan Menyimpang

📅 Senin, 21 Apr 2025, 15:54 WIB | Oleh:
Perlu Perubahan Kurikulum Pendidikan untuk Cegah Tenaga Kesehatan Menyimpang Doc: Istimewa
Ket. Pemerhati Perilaku Kesehatan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yayi Suryo Prabandari

JAKARTA - Pemerhati Perilaku Kesehatan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yayi Suryo Prabandari, mengatakan, perlu perubahan kurikulum pendidikan untuk mencegah adanya tenaga kesehatan yang menyimpang. Menurutnya, hal tersebut harus jadi perhatian mengingat maraknya kasus kekerasan seksual oleh para tenaga kesehatan akhir-akhir ini.

"Untuk mencegah dan menghindari perilaku tenaga kesehatan yang menyimpang dari tugasnya memberikan pelayanan kesehatan ke masyarakat diperlukan perubahan struktur kurikulum pendidikan yang terorganisir," ujar Yayi, dikutip dari laman resmi UGM, Senin (21/4).

Dia menekankan, sistem organisasi kurikulumnya pendidikan baik. Dengan demikian, dipelajari dan harus dievaluasi dapat dilakukan dengan baik dan yang paling penting juga perlunya koordinasi antara program studi dengan rumah sakit.

Yayi melanjutkan, tantangan terbesar seorang tenaga kesehatan berasal dari dalam dirinya sendiri. Meski begitu, dalam pendidikan kedokteran, juga perlu memasukkan role model sebagai panutan baik dari kalangan dosen maupun alumni.

“Jadi diperlukan dosen-dosen maupun alumni yang sudah selesai itu bisa menunjukkan menjadi tokoh panutan yang baik. Jadi memberikan contoh yang baik,” jelasnya.

Dia menyebut, profesi dokter mengharuskan pendekatan yang baik dengan pasien agar mampu mewujudkan integritas dan profesionalismenya yang tinggi. Meski begitu, seorang dokter tidak boleh memanfaatkan kesempatan tersebut untuk hal-hal yang tidak baik apalagi melakukan kekerasan seksual.

“Dosen, pendidik klinis, koas, residen dan personel klinis yang ada di RS harus saling menghormati satu sama lain, mengutamakan keselamatan pasien, menegakkan integritas, tidak hanya menghindari kekerasan seksual, namun juga kekerasan verbal dan fisik,” katanya.

Seperti diketahui, belum ada data nasional yang mencatat prevalensi pelecehan seksual oleh tenaga medis di Indonesia. Di Indonesia, meski data angkanya tidak disebutkan secara spesifik, pelecehan seksual diakui sebagai bagian dari perundungan yang masih sering terjadi akibat budaya hierarki dan minimnya sistem pelaporan yang efektif.

Sebagai gambaran, General Medical Council (GMC) di Inggris tahun 2019 menyatakan bahwa dari sekitar 160 ribu dokter terdaftar, hanya 0,2 persen yang mendapatkan sanksi etik karena pelanggaran seksual dalam lima tahun terakhir. Lalu di Amerika Serikat, menurut survei National Sexual Violence Resource Center (NSVRC), tenaga medis menyumbang sekitar 3 persen-5 persen dari total pelaku pelecehan seksual di tempat publik dalam periode 10 tahun.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Polri Gelar Upacara Serah Terima Panji Tribrata

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Polri Gelar Upacara Serah T...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.