Kasus Kekerasan Seksual Dokter PPDS Jangan Digeneralisir

Senin, 21 Apr 2025, 15:37 WIB

JAKARTA - Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama, kasus kekerasan seksual dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) jangan digeneralisir. Pandangan ini tidak hanya berlaku pada profesi dokter saja, tapi juga profesi lainnya.

"Saya kok yakin bahwa dengan adanya kasus satu orang PPDS ini maka tidak bisa digebyah uyah bahwa ada juga atau banyak PPDS atau dokter di Indonesia juga melakukan hal serupa," ujar Tjandra, dikutip dari laman resmi Universitas YARSI, Senin (21/4).

Ket. Foto: Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama. — Sumber: Istimewa

Dia mengatakan, secara umum pelecehan seksual dalam bentuk apapun merupakan perbuatan tercela dan perlu mendapat ganjaran yang setimpal. Menurutnya, pencabutan izin melakukan kegiatan profesi sebagai dokter merupakan salah satu bentuk hukuman profesi yang dilakukan, selain hukuman badan sesuai putusan pengadilan yang akan dijalaninya.

"Kasus yang ada jelas harus ditangani amat serius, tapi upaya generalisasi juga jelas tidak tepat jadinya," jelasnya.

Tjandra menyebut, kejadian pelecehan seksual selama ini sudah terjadi di berbagai jenis dan kelompok masyarakat. Menurutnya hal ini harus segera ditangani.

"Pengendaliannya harus dilakukan dengan upaya pembinaan mental anak bangsa di semua lini," katanya.

Sebagai informasi, kasus kekerasan seksual oleh dokter marak terjadi akhir-akhir ini. Salah satunya dilakukan oleh dokter PPDS di Universitas Padjajaran (Unpad).

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan menerapkan tes kepribadian dalam proses seleksi calon dokter. Adapun tes kepribadian yang dimaksud yaitu Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI).

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengatakan, tes bertujuan untuk menyaring potensi gangguan psikologis yang tidak sesuai dengan karakter profesi medis. Hal ini penting mengingat akhir-akhir ini banyak terjadi kasus pelecehan seksual oleh dokter.

“Kalau hasilnya menunjukkan ada kelainan psikologis dan tidak cocok untuk profesi dokter, maka akan kami tolak, walaupun nilai akademiknya bagus,” ujar Dante, dalam keterangan resminya, Minggu (20/4).

Redaktur: Sriyono

Penulis: Muhamad Ma'rup

Berita Terbaru

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.