Rupiah Melemah 0,15 Persen Sepekan Ini, Berikut Ini Sentimen yang Mempengaruhinya

Kamis, 17 Apr 2025, 20:27 WIB

JAKARTA - Kinerja mata uang rupiah sepekan ini cenderung melemah karena dipengaruhi oleh dominasi sentimen negatif global. Investor makin cemas dengan risiko perang dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. 

Investor bereaksi terhadap kebijakan tarif resiprokal dari pemerintah AS, termasuk kepada Indonesia sebesar 32 persen. Namun, pada 9 April lalu, Presiden AS Donald Trump menunda pemberlakuan kebijakan tarif tersebut selama 90 hari. 

Ket. Foto: Ilustrasi - Menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah. — Sumber: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Di sisi lain, Trump justru menaikkan tarif bea masuk dari Tiongkok yang kemudian berbuntut pada aksi balasan dari kedua negara. Terbaru, Trump menaikkan tarif impor dari Tiongkok menjadi 145 persen. 

Pada saat bersamaan, bank sentral AS (The Fed) memberikan sinyak untuk menahan suku bunga acuan. Hal tersebut memicu penguatan dollar AS dan menekan rupiah.

Alhasil, kurs rupiah sepekan ini atau pada 14-17 April 2025 cenderung melemah 26 poin atau 0,15 persen menjadi Rp16.834 per dollar AS. Bahkan, angka tersebut jauh meninggalkan target dalam asumsi makro APBN 2025 sebesar Rp16.000/ dollar AS. 

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Kamis (17/4), di Jakarta menguat sebesar 4 poin atau 0,02 persen dari sehari sebelumnya menjadi Rp16.834 per dollar AS l.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, Kamis (17/4), juga menguat ke level Rp16.833 per dollar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.845 per dollar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan, kurs rupiah bergerak anomali di tengah mayoritas pelaku pasar risk off menghindari aset-aset berisiko.

“Kurs rupiah hari ini anomali di tengah mayoritas pelaku pasar risk off menghindari aset-aset berisiko dan pasar saham yang masih volatile seiring dengan saling balas tarif antara AS dan Tiongkok,” ujarnya di Jakarta.

Menurut dia, pelaku pasar menghindari aset berisiko, termasuk dollar AS yang mengalami tren penurunan hingga indeks dollar AS menjadi di bawah 100. Karena itu, investor mengalihkan investasi pada safe haven, yen dan swiss franc dengan kenaikan nyaris sebesar penurunan indeks dollar, yang sebesar 8 persen.

Kendati kurs mata uang Indonesia bergerak anomali, membaiknya harga obligasi negara yang didominasi investor domestik memberikan stabilitas pasar obligasi dan nilai tukar rupiah.

“Obligasi negara mayoritas masih didominasi oleh investor domestik sekitar 80 persen,” ungkap Rully.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.