'Post Holiday Blues' Usai Libur Lebaran Perlu Diatasi, Dosen UM Surabaya Ungkap Tipsnya
📅 Rabu, 09 Apr 2025, 09:43 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rup
Doc: Istimewa
JAKARTA - Setelah berakhirnya liburan panjang Idul Fitri di Indonesia, banyak orang mengalami "post holiday blues". Istilah ini merujuk pada perasaan sedih, cemas, atau kelelahan yang dialami seseorang setelah kembali ke rutinitas normal setelah periode liburan yang menyenangkan.
Dosen Keperawatan Jiwa Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Uswatun Hasanah mengatakan, penyebab dari post holiday blues pasca libur panjang Idulfitri dapat bervariasi. Salah satunya adalah perpisahan dengan keluarga dan teman-teman yang tercinta setelah momen kebersamaan yang menyenangkan selama liburan.
"Selain itu, kembalinya ke rutinitas harian yang monoton juga dapat menyebabkan perasaan sedih dan kehilangan semangat. Ketidaknyamanan dalam menyesuaikan diri kembali dengan jadwal kerja atau aktivitas sehari-hari juga bisa menjadi faktor penyebab lainnya," ujar Uswatun, dikutip dari laman resmi UM Surabaya, Rabu (9/4).
Dia menjelaskan, tanda dan gejala dari post holiday blues dapat berbeda-beda bagi setiap individu. Meski begitu, beberapa ciri umum yang sering muncul meliputi perasaan sedih atau muram, kurangnya motivasi atau semangat, kesulitan berkonsentrasi, dan perubahan dalam pola tidur atau nafsu makan.
“Beberapa orang juga dapat mengalami gejala fisik seperti kelelahan atau sakit kepala akibat stres yang dialami,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Untuk mengatasi masalah post holiday blues pasca libur panjang Idulfitri, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan menurut Uswatun. Pertama dalam mengatasi post holiday blues adalah dengan menerima perasaan yang dialami secara terbuka.
Kedua, tetap aktif dan mulai menyusun jadwal kegiatan yang produktif. Ketiga, lakukan reminiscence yaitu salah satu bentuk psikoterapi dimana individu mengingat momen bahagia atau menyenangkan yang pernah dilalui sebelumnya baik sendiri atau berkelompok dengan anggota keluarga maupun peer group.
“Sharing cerita-cerita menarik dan pengalaman positif yang dilalui selama liburan dengan orang-orang terdekat dapat membantu memperpanjang kebahagiaan tersebut dan mengurangi perasaan sedih,” jelasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Keempat, tetap terhubung dengan teman atau keluarga yang berada jauh dari kita. Kelima, atur rencana masa depan, termasuk tetapkan rencana untuk liburan berikutnya atau jadwalkan aktivitas menyenangkan lainnya dengan baik, buat diri menantikan moment liburan yang telah direncanakan.
"Memiliki sesuatu yang ditunggu-tunggu dapat membantu meningkatkan suasana hati dan motivasi," ucapnya.
Keenam, fokus pada diri sendiri. Luangkan waktu untuk merawat diri sendiri dengan melakukan aktivitas yang menenangkan seperti meditasi, yoga, atau membaca buku.
"Merawat diri sendiri secara fisik dan emosional dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan," tuturnya.
Uswatun menegaskan, penting untuk ditanamkan pada diri bahwa hal ini merupakan gejala sementara. Perasaan tersebut akan hilang dengan sendirinya seiring waktu berlalu, dan saat ini banyak individu lain juga menghadapinya.
“Jika merasa kesulitan mengatasi perasaan sedih atau gejalanya menetap lebih dari 2 minggu atau bahkan 1 bulan, disarankan agar segera mencari bantuan dari profesional kesehatan mental,” terangnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!