DPR: Idul Fitri 1446 Hijriah Momentum Bangun Bangsa dengan Akhlak
📅 Minggu, 30 Mar 2025, 10:07 WIB | Oleh: Sriyono
Doc: istimewa
JAKARTA - Sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) Johan Rosihan menyebut bahwa Hari Raya Idul Fitri 1446 H sebentar lagi akan kembali menyapa dengan nuansa suka cita, haru, dan harapan baru.
“Setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan, kita kembali ke fitrah—ke kondisi jiwa yang bersih, penuh kesadaran spiritual, dan semangat memperbaiki diri,” katanya di Jakarta, Minggu (30/3).
Namun, lanjutnya,Idul Fitri bukan hanya soal kemenangan pribadi atas hawa nafsu, tetapi momentum kolektif untuk bangun negeri dengan akhlak, menata kembali arah perjalanan bangsa ini dengan nilai-nilai keteladanan.
“Ramadhan adalah pelatihan ruhani dan sosial yang sangat relevan untuk memperkuat bangunan kebangsaan kita," ujarnya.
Diungkapkan anggota Komisi IV DPR RI Dapil NTB I ini, ada beberapa nilai inti Ramadhan yang perlu diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, antara lain, Pertama, Kejujuran Pondasi Kepemimpinan Yang Bermartabat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kejujuran adalah inti dari ibadah puasa. Ia mendidik manusia untuk bertindak benar meski tidak dilihat manusia lain. Dalam konteks berbangsa, nilai ini harus ditransformasikan menjadi budaya antikorupsi, transparansi, dan akuntabilitas publik.
“Pemimpin yang jujur akan melahirkan kebijakan yang adil, dan masyarakat yang jujur akan menjadi penjaga moral ruang publik. Mari dorong lahirnya birokrasi dan lembaga negara yang bersih melalui pendidikan karakter sejak dini dan penegakan hukum tanpa pandang bulu,” katanya.
Kedua, kesabaran kekuatan menghadapi perbedaan dan ujian bangsa.Puasa mengajarkan kesabaran dalam menghadapi lapar, haus, dan ujian. Bangsa ini pun tak lepas dari ujian: perbedaan politik, ekonomi yang tidak merata, hingga bencana alam.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Dengan kesabaran, kita diajarkan untuk tidak mudah terprovokasi, tidak menyebar kebencian, dan mampu menyikapi dinamika sosial-politik dengan tenang dan dewasa. Kita butuh lebih banyak tokoh publik dan masyarakat yang mampu meredam gejolak, bukan memperkeruh keadaan,” ujar Johan.
Ketiga, empati menumbuhkan kepedulian sosial dan keadilan ekonomi.Ramadan melatih empati melalui lapar yang disengaja, agar semua merasakan derita kaum miskin. Spirit ini harus menjadi dasar bagi pembangunan nasional: kebijakan ekonomi yang berpihak pada kelompok rentan, pemerataan layanan publik, dan penguatan jaring pengaman sosial.
“Dalam konteks ini, zakat dan infak bukan sekadar amal pribadi, tapi dapat dikelola menjadi gerakan sosial sistemik yang mendukung pencapaian kesejahteraan dan keadilan sosial sebagaimana amanat sila ke-5 Pancasila,” tambahnya.
Keempat, disiplin diri membangun bangsa dengan etos kerja dan tertib sosial.Puasa menanamkan disiplin waktu, pengendalian diri, dan konsistensi. Nilai ini sangat penting dalam kehidupan bernegara: disiplin hukum, disiplin dalam pelayanan publik, dan etos kerja produktif.
Bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh kecerdasan, tapi juga oleh konsistensi dalam menegakkan aturan dan menghargai waktu. Mulai dari hal kecil seperti antre, mematuhi lalu lintas, hingga kedisiplinan lembaga dalam menjalankan amanah.
Kelima, kepedulian kolektif gotong royong sebagai modal sosial bangsa.Ramadan menghidupkan semangat berbagi dan kolaborasi. Takmir masjid, relawan sosial, hingga warga biasa terlibat aktif dalam kegiatan buka puasa, santunan, dan distribusi sembako. Ini adalah kekuatan gotong royong yang perlu terus dihidupkan pasca-Ramadhan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!