Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Seluruh Myanmar Terdampak Gempa “Kembar”, Masyarakat Sebut Layaknya Kiamat

📅 Sabtu, 29 Mar 2025, 11:05 WIB | Oleh:

Laporan dari media lokal di Thailand menyebutkan bangunan yang sedianya akan digunakan sebagai kantor Audit Negara itu ambruk akibat struktur bangunan yang tidak stabil.

Pihak Departemen SAR dan Pemadam Kebakaran Bangkok menyebut terdapat setidaknya 100 korban akibat runtuhnya gedung tersebut dan tiga orang diantaranya meninggal dunia.

Tak hanya itu, sejumlah gedung ikonik di Bangkok pun tak luput dari dampak gempa. Laporan warganet di media sosial menampilkan gedung pencakar langit King Power Mahanakhon bergoyang selama gempa. Video lainnya menampilkan pengunjung gedung setinggi 314 meter dengan fasad kaca itu berlindung di balik meja.

Infiniy Pool di Bangkok pun tak luput dari dampak gempa dan berubah menjadi air terjun saat gempa mengguncang wilayah itu. Ribuan liter air kolam meluap dan tercurah ke jalanan di bawahnya.

"Mengerikan sekali (guncangan gempanya)," kata seorang warga Bangkok, Khoncanok.

Saat kejadian Khoncanok dan keluarganya melarikan diri ke tempat yang lebih aman. Hingga Sabtu (29/3) pagi, sejumlah warga Bangkok masih trauma dan khawatir akan gempa susulan.

Tak lama setelah gempa, jalanan di Bangkok dipadati pejalan kaki menyusul berhenti beroperasinya angkutan umum dan langkanya taksi.

Sejumlah warga memilih tidur dan menghabiskan malam di Taman Chatuchak, Bangkok. Pihak Pemerintah Kota Bangkok menyediakan air minum gratis dan juga toilet bus bagi mereka.

Gempa kembar

Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebut terdapat dua gempa yang mengguncang wilayah Sagaing Myanmar, yakni gempa dengan magnitudo 7,7 dan 12 menit kemudian disusul gempa dengan magnitudo 6,2. Gempa dengan kedalaman 10 kilometer itu berasal dari Sesar Besar Sagaing.

Jurnal yang ditulis Pyae Sone Aung dan kawan-kawan pada 2015 dan diterbitkan oleh ScienceDirect, menjelaskan patahan Sagaing merupakan patahan yang memiliki panjang 1.200 kilometer di sepanjang utara hingga selatan Myanmar. Banyak daerah di Myanmar yang berada di patahan tersebut. Patahan itu juga menjadi penyebab sejumlah gempa bumi di Myanmar. Maka sejak 2011, Myanmar membangunan jaringan GPS yang bertujuan memantau aktivitas patahan tersebut.

Direktur Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan gempa yang terjadi merupakan gempa kembar dengan skala intensitas maksimum atau kerusakan berat. Gempa kembar merupakan dua peristiwa gempa yang terjadi dengan magnitudo hampir sama dalam rentang waktu dan lokasi yang tak terlalu lama.

Dikutip dari laman X nya, Daryono menjelaskan kasus serupa pernah terjadi di Michoacan Meksiko pada 1985.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Belajar merangkai kain batik di Semarang

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.