Jepang, Tiongkok dan Korsel Sepakat Tingkatkan Perdamaian
📅 Senin, 24 Mar 2025, 02:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/Rodrigo Reyes Marin
TOKYO - Jepang, Korea Selatan (Korsel), dan Tiongkok, pada Sabtu (22/3) sepakat bahwa mengupayakan perdamaian di Semenanjung Korea yang merupakan tanggung jawab bersama. Hal itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Korsel dalam pertemuan diplomat utama ketiga negara di mana mereka berjanji untuk meningkatkan kerja sama.
Pembicaraan tersebut menyusul pertemuan puncak trilateral langka pada Mei tahun lalu di Seoul, dimana kedua negara tetangga yang terpecah oleh pertikaian sejarah dan teritorial, sepakat untuk memperdalam hubungan dan menegaskan kembali tujuan untuk denuklirisasi Semenanjung Korea.
Namun hal itu terjadi saat tarif perdagangan Amerika Serikat (AS) membayangi wilayah tersebut, dan saat kekhawatiran meningkat atas uji coba senjata Korea Utara (Korut) dan pengerahan pasukannya untuk mendukung perang Russia melawan Ukraina.
“Kami menegaskan kembali bahwa menjaga perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea merupakan kepentingan dan tanggung jawab bersama ketiga negara,” kata Menlu Korsel, Cho Tae-yul, Sabtu. “Selain itu, kami menekankan bahwa kerja sama militer ilegal antara Russia dan Korut harus segera dihentikan,” imbuhnya.
Seoul dan Tokyo biasanya mengambil sikap yang lebih tegas terhadap Korut dibandingkan Tiongkok, yang tetap menjadi salah satu sekutu dan penyumbang ekonomi Pyongyang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menteri Luar Negeri Jepang, Takeshi Iwaya, mengatakan bahwa dia, Menlu Cho, dan Menlu Tiongkok, Wang Yi, akan melakukan pertukaran pandangan terbuka mengenai kerja sama trilateral dan urusan internasional regional dan menegaskan bahwa kami akan mempromosikan kerja sama yang berorientasi ke masa depan.
“Situasi internasional telah menjadi semakin parah, dan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kita sedang berada pada titik balik sejarah,” kata Menlu Iwaya di awal pertemuan trilateral pada Sabtu.
“Dalam konteks ini, menjadi lebih penting dari sebelumnya untuk melakukan upaya mengatasi perpecahan dan konfrontasi melalui dialog dan kerja sama,” imbuh dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sedangkan Menlu Wang mengatakan bahwa tahun ini menandai peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II, dan hanya dengan merenungkan sejarah dengan tulus, ketiga negara dapat membangun masa depan dengan lebih baik.
“Penguatan kerja sama akan memungkinkan negara-negara untuk bersama melawan risiko serta mendorong saling pengertian di antara masing-masing warganya,” ungkapnya.
Konflik Ukraina
Ukraina juga menjadi agenda perundingan pada Sabtu, dengan Menlu Iwaya memperingatkan bahwa mengubah status quo secara sepihak dengan kekerasan tidak dapat diterima di mana pun.
“Mengenai situasi di Ukraina, saya menekankan perlunya masyarakat internasional bersatu dalam menyerukan bahwa setiap upaya untuk mengubah status quo secara sepihak dengan kekerasan tidak akan ditoleransi di mana pun di dunia,” kata dia kepada wartawan.
Perubahan iklim, populasi yang menua, dan perdagangan merupakan beberapa topik tambahan yang menurut para pejabat akan dibahas, selain juga bekerja sama dalam bantuan bencana serta sains dan teknologi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!