Pesona Sejarah Masjid Teungku Di Anjong, Warisan Ulama Aceh Abad ke-18
📅 Selasa, 18 Mar 2025, 19:50 WIB | Oleh: Deri HenriawanSetelah memilih menetap di Aceh, Habib Abubakar bermukim di Peulanggahan, yang dulunya menjadi tempat persinggahan para pedagang yang melintasi Selat Malaka. Ia membangun rumah di Peulanggahan dan menjadikannya sebagai dayah atau pesantren.
Pada masa itu, dayah Teungku Di Anjong berkembang pesat, menarik murid-murid dari berbagai wilayah Nusantara hingga Semenanjung Malaya. Seiring waktu, dayah ini kemudian dijadikan masjid yang masih digunakan hingga kini sebagai tempat ibadah dan belajar agama.
“Pada tahun 80-an, dayah ini kemudian berubah menjadi bangunan masjid,” katanya.
Pusat Manasik Haji dan Basis Pertahanan Militer
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain menjadi pusat pendidikan agama Islam, Masjid Teungku Di Anjong yang berdiri pada 1769 Masehi ini pernah berfungsi sebagai pusat manasik haji.
"Dahulu, calon jamaah haji dari berbagai daerah Nusantara dan Semenanjung Malaya singgah di sini untuk belajar tata cara pelaksanaan ibadah haji sebelum berangkat ke Makkah," kata Fahmi.
Fahmi menceritakan bahwa kapal-kapal pengangkut jamaah haji yang melewati Selat Malaka kerap transit di Aceh, dan para jamaah mengikuti manasik di dayah yang didirikan oleh Teungku Di Anjong. Manasik haji ini dipimpin langsung oleh Teungku Di Anjong. Hal inilah menjadi salah asal-muasal julukan Aceh sebagai "Serambi Makkah".
Sebaiknya Anda baca juga:
“Disela-sela dayah ini, itu dulunya ada beberapa balai untuk menampung para jamaah untuk manasik haji di bawah bimbingan beliau dan Syarifah Fatimah yang ada makamnya di sini, Syarifah Fatimah itu istri beliau,” kata Fahmi, yang telah 15 tahun menjaga dan merawat makam Teungku Dianjong.

Makam Habib Abubakar bin Husen Bilfaqih yang berada di Kompleks Masjid Teungku Di Anjong. (ANTARA/Nurul Hasanah)
Teungku Di Anjong kemudian wafat pada 14 Ramadhan 1100 Hijriah atau sekitar tahun 1782 Masehi, bertepatan dengan hari Jumat selepas shalat Isya. Dia dimakamkan di dalam kompleks masjid berdampingan dengan makam istrinya Syarifah Fatimah Binti Sayid Abdurrahman Al-Aidid yang juga berasal dari Hadramaut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!