Psikolog: Masalah Kesehatan Mental Bisa Diatasi dengan Pendekatan Holistik
📅 Kamis, 13 Mar 2025, 13:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Istockphoto
JAKARTA - Psikolog lulusan Universitas Indonesia (UI), Nurul Adiningtyas, MPsi, mengungkapkan pentingnya pendekatan yang lebih holistik atau menyeluruh dalam menghadapi masalah kesehatan mental.
Nurul menekankan perlunya mengenali pemicu yang dapat memperburuk kondisi mental seseorang, terutama bagi mereka yang telah terdiagnosis memiliki gangguan mental.
“Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah mengenali trigger yang dapat menstimulasi reaksi emosional yang berlebihan, seperti kecemasan, stres, atau depresi. Misalnya, ada orang yang merasa cemas atau tertekan ketika melihat orang lain marah,” kata Nurul dalam webinar yang dipantau di Jakarta, Rabu (12/3).
Setelah seseorang mengetahui pemicu, ia menyarankan agar individu yang mengalami masalah kesehatan mental berusaha untuk menghindari atau mengatasi pemicu tersebut dengan cara yang sesuai.
Adapun salah satu langkah penting lainnya adalah menjaga rutinitas pengobatan, termasuk menyesuaikan waktu minum obat dengan jadwal yang telah disarankan oleh dokter atau psikiater.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Selain itu, saling memberikan dukungan antar sesama juga sangat penting. Kita bisa saling terkoneksi dan membantu satu sama lain. Jangan ragu untuk terus berkonsultasi dengan dokter atau psikiater secara rutin,” ujar dia.
Dalam konteks Ramadan, Nurul juga menegaskan bahwa puasa seharusnya tidak menjadi beban yang menambah tekanan bagi individu yang membutuhkan pengobatan rutin.
“Jika obat tidak bisa digeser jadwalnya karena puasa, itu tidak masalah. Kesehatan mental harus tetap menjadi prioritas,” ujar dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dokter di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) itu mengungkapkan, salah satu cara untuk membantu mengelola emosi adalah melalui kegiatan menulis.
Ia menjelaskan bahwa menulis dapat membantu seseorang untuk lebih memahami dan mengelola perasaan mereka.
Terlebih dalam budaya Indonesia yang cenderung menahan ekspresi emosi, seperti anggapan bagi laki-laki untuk tidak boleh menangis atau perempuan yang tidak boleh marah, maka menulis bisa menjadi cara efektif untuk menggali dan mengekspresikan perasaan secara lebih jujur.
Menurut dia, menulis bukan hanya untuk mengungkapkan perasaan, tapi juga untuk merayakan hal-hal positif yang telah dilakukan.
Ia menilai, hal ini bisa membantu untuk lebih menghargai diri sendiri dan tidak selalu menunggu validasi dari orang lain.
Lebih lanjut, Nurul juga menyarankan agar setiap individu dapat memberi apresiasi pada dirinya sendiri dengan mengucapkan terima kasih atas tubuh dan pikiran yang telah bekerja sepanjang hari.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!