Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Koperasi Harus Menjadi Instrumen Demokratisasi Pangan di Desa

📅 Jumat, 07 Mar 2025, 01:16 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Koperasi katanya mesti dibangun dari bawah, sebagai gerakan rakyat untuk menolong diri sendiri (self help), sekaligus menjadi gerakan bersama multi pihak yang terkait dengan pertanian dan pangan di pedesaan, termasuk perguruan tinggi.

“Selama ini memang sudah banyak koperasi tani yang sudah berjalan tetapi belum maksimal. Pemerintah bisa meniru koperasi di negara-negara Skandinavia seperti Denmark, dan Jepang yang sudah berjalan baik,” kata Awan.

Peneliti Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi dalam waktu terpisah mengatakan koperasi tani yang pernah jaya di era Orde Baru dan merupakan gagasan dari Prof. Sumitro sudah saatnya dihidupkan kembali.

“Saat ini sangat relevan dikembalikan semangat koperasi tani, bahkan di negara-negara maju koperasi pertanian tetap eksis untuk menjadi alat penyangga ekonomi kolektif petani dengan pasar,” kata Hafidz.

Pemerintah katanya hanya perlu menyelesaikan masalah mendasar koperasi yang ada seperti ada yang hanya papan nama saja, tetapi tidak ada kegiatan.

“Kebanyakan koperasi-koperasi di desa yang ada saat ini tidak berfungsi dengan baik, bahkan banyak yang praktiknya justru berubah jadi bank plecit atau bank harian dengan bunga tinggi, iming-imingnya kemudahan akses, tetapi tidak ada manajemen kolektif seperti pembagian sisa hasil usaha (SHU) dan pengelolaan manajemen berbasis Rapat Anggota Tahunan,” kata Hafidz.

Ide yang bagus itu katanya harus dibarengi dengan pendampingan manajemen di level komunitas, agar sistemnya benar-benar jalan dan manajemennya juga dikelola dengan baik sehingga koperasi bisa menjadi akses untuk pembiayaan dari perbankan serta bisa berkolaborasi dengan sektor bisnis untuk mengembangkan kolaborasi supply chains.

“Dengan demikian, pertanian menjadi sektor prospektif yang dilirik pembiayaan perbankan dan memberikan nilai tambah tinggi bagi petani karena produktifitasnya tinggi dan harganya kompetitif,”ungkap Hafidz.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Luar Negeri
Trump Tuding Zelenskyy Tak ...
Luar Negeri
Provinsi Alberta Gelar Refe...
Advertisement
Usai Prancis Membara, Kini Meksiko Rusuh Gara-gara Krisis Air

Usai Prancis Membara, Kini Meksiko Rusuh Gara-gara Krisis Air

19 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.