Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pasar Tunggu RDG BI, Simak Proyeksi IHSG

📅 Rabu, 19 Feb 2025, 08:45 WIB | Oleh:
Pasar Tunggu RDG BI, Simak Proyeksi IHSG Doc: istimewa

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di­perkirakan berbalik melemah, hari ini (19/2). Pergerakan IHSG bakal dipengaruhi pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI).

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat pasar akan menantikan rilis suku bunga acuan BI yang secara konsensus tetap ber­ada di level 5,75 persen. Karenanya, Herditya memproyeksikan IHSG da­lam perdagangan, Rabu (19/2), rawan terkoreksi dalam jangka pendek dengan support di level 6.812 dan resistance 6.895.

Sebelumnya, IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa sore ditutup naik mengikuti penguatan mayoritas bursa saham kawasan Asia.

IHSG ditutup menguat 46,27 poin atau 0,62 persen ke po­sisi 6.873,55. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 7,61 poin atau 0,96 persen ke posisi 804,06.

“Telah muncul kesadaran di kalangan negara anggota Uni Eropa bahwa mereka tidak bisa lagi terlalu tergantung pada Amerika Serikat (AS) untuk melindungi mereka, sehingga ha­rus meningkatkan belanja pertahanan,” sebut Tim Riset Pila­rmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Perkembangan itu memperkuat pandangan bahwa emi­si atau penjualan surat utang harus ditingkatkan, karena negara-negara Eropa harus menanggung biaya kesepakat­an perdamaian yang langgeng antara Ukraina dan Rusia.

Pemerintah AS telah meminta negara-negara Eropa un­tuk menjelaskan jaminan keamanan dan peralatan militer yang dapat mereka tawarkan kepada Ukraina untuk me­mastikan penyelesaian perdamaian yang langgeng.

Meningkatkan anggaran pertahanan dan melindungi Ukraina dapat membebani negara-negara besar Eropa de­ngan tambahan biaya 3,1 triliun dollar AS selama 10 tahun, ke depan menurut estimasi Bloomberg Economics.

Dari sisi moneter, The Reserve Bank of Australia (RBA) diprediksi akan melakukan pemangkasan suku bunga acuan atau pertama dalam empat tahun, sebesar 25 bps menjadi 4,1 persen.

Meski demikian, pasar tenaga kerja yang solid, belanja konsumen yang tangguh, pertumbuhan kredit yang kuat, dan nilai tukar mata uang dollar Australia yang lebih lemah dapat menjadi alasan bagi RBA untuk menahan suku bu­nga.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.