Sosok Pramoedya Ananta Toer di Mata Budayawan
📅 Selasa, 21 Jan 2025, 23:05 WIB | Oleh: Ones
Doc: Antara
Jakarta - Budayawan Hilmar Farid menggambarkan Pramoedya Ananta Toer sebagai salah satu penulis Indonesia yang karya-karyanya paling banyak diterjemahkan ke bahasa asing, sekitar 25 bahasa.
Foto Pramoedya Ananta Toer yang dipajang saat konferensi pers gelaran seabad Pramoedya Ananta Toer di Jakarta, Selasa.
Karya-karya Pram, menurutnya, berhasil menarasikan Indonesia dengan begitu memukau, mencerminkan keteguhan dan kecerdasan sang penulis.
“Jadi sejak awal ya, ketika mulai menulis di tahun 50-an, sampai kemudian di tahun-tahun 80-an tuh karyanya, pengaruhnya luar biasa gitu. Dia sejak usia belasan tahun sudah memilih jalan sebagai penulis, dan kemudian mendedikasikan hidupnya sampai akhir hayat itu sebagai penulis. Dia bahkan menyebut bahwa menulis itu adalah tugas nasionalnya dia gitu ya,” kata Hilmar saat konferensi pers gelaran seabad Pramoedya Ananta Toer di Jakarta, Selasa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dedikasi Pram tidak lepas dari berbagai konsekuensi berat, ia harus merasakan pahitnya penjara di tiga rezim berbeda, yakni masa kolonial Belanda, pemerintahan Soekarno, dan Orde Baru.
Namun, Hilmar menekankan bahwa pengalaman-pengalaman itu menunjukkan keteguhan prinsip Pram dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui tulisan.
Hilmar menggarisbawahi bahwa konsistensi Pram adalah teladan berharga di tengah berbagai pilihan hidup yang sering membingungkan.
Meskipun perjalanan hidup Pram dipenuhi banyak hal tidak menyenangkan, karya-karyanya tetap hadir dengan gemilang.
Salah satu karya yang meninggalkan kesan mendalam bagi Hilmar adalah novel “Bukan Pasar Malam”.
Novel ini merefleksikan hubungan Pramoedya dengan ayahnya yang keras dan penuh tantangan.
“Kalau buat saya, ada satu novel yang sangat penting itu “Bukan Pasar Malam”. Ini cerita mengenai ayahnya ya, ketika orang yang menempa dia sehingga menjadi Pram yang kita kenal sekarang, dengan cara yang sangat tidak lazim," ungkap Hilmar.
Melalui novel tersebut, Hilmar melihat sisi personal Pram yang luar biasa dimana menunjukkan refleksi mendalam Pram sebagai seorang manusia.
Pada usia 25 tahun, Pramoedya sudah dikenal luas sebagai penulis mapan, bukti dari keteguhannya menempuh jalan yang ia pilih.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!