Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Lenong Modern dan Ruang bagi Anak Muda untuk Melestarikan Budaya

📅 Senin, 13 Jan 2025, 17:51 WIB | Oleh:


Jati Diri

Kisah Kautsar dan para pemeran muda lainnya bukan hanya tentang bakat individu. Ini menjadi gambaran bagaimana seni tradisional seperti lenong dapat dirangkul oleh generasi muda.

Ketika dunia hiburan saat ini didominasi oleh media sosial, film blockbuster, dan tren global, lenong modern hadir sebagai pengingat bahwa seni lokal tetap bisa beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.

Inilah pentingnya kolaborasi lintas generasi, seperti yang terjadi dalam pementasan ini. Dengan para aktor dan pemeran senior mau berbagi panggung dengan anak-anak muda, seni lenong tidak hanya hidup, tetapi juga berkembang.

Lenong modern bukan sekadar lenong dengan gaya baru. Ia adalah jembatan yang menghubungkan tradisi dan inovasi, sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk menarik minat generasi muda.

Dengan mengemas cerita yang relevan dengan isu masa kini, menyisipkan dialog yang akrab bagi Gen Z, serta memanfaatkan unsur teknologi seperti tata cahaya dan musik yang lebih modern, lenong menjadi ruang kreatif yang segar.

Anak muda tidak lagi melihat lenong sebagai seni “kuno,” tetapi sebagai wadah untuk mengekspresikan diri sekaligus melestarikan budaya.

Pementasan lenong modern juga memiliki peran strategis dalam membangun identitas budaya. Di tengah tren globalisasi, sering kali kita lupa pada kekayaan lokal yang sebenarnya bisa menjadi kekuatan.

Generasi muda seperti Kautsar tidak hanya berperan sebagai pelaku seni, tetapi juga sebagai penjaga identitas yang membawa cerita-cerita Betawi ke audiens yang lebih luas.

Ini penting di tengah tekanan budaya asing yang terus-menerus mendominasi ruang hiburan di tanah air.

Namun, regenerasi ini tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan dukungan yang serius, baik dari pemerintah maupun komunitas seni. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah memperbanyak panggung untuk lenong modern.

Festival seni, pementasan di sekolah-sekolah, hingga integrasi lenong dalam kurikulum ekstrakurikuler bisa menjadi cara untuk memperkenalkan seni ini kepada lebih banyak anak muda.

Selain itu, media sosial juga bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan lenong dengan format yang lebih ringan, seperti sketsa pendek yang diunggah di platform populer.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Taman Safari Prigen Perkena...
Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.