Industri Kosmetik Nasional Sedang 'Glowing', tapi Masyarakat Perlu Waspada
📅 Minggu, 12 Jan 2025, 16:00 WIB | Oleh: Tim Penulis1. ICP MS & SSA
Dua metode utama yang sering digunakan untuk menganalisis deteksi dan mengukur kadar logam, yaitu inductively coupled plasma mass spectrometry (ICP-MS) dan spektroskopi serapan atom (SSA). Kedua teknik ini dikenal dengan sensitivitas dan akurasinya dalam mendeteksi logam berat, seperti merkuri, timbal, arsenik, dan kadmium.
Sayangnya, selain membutuhkan biaya tinggi, analisis ini memerlukan fasilitas laboratorium yang terpusat dengan peralatan canggih.
2. X-ray fluorescence (XRF) portabel
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai alternatif, sebuah studi tahun 2024 dalam Journal of Environmental Chemical Engineering menyebutkan perangkat x-ray fluorescence (XRF) portabel sebagai solusi untuk mendeteksi kadar merkuri. Meski menawarkan mobilitas, teknologi ini masih tergolong mahal, sehingga belum bisa diakses secara luas.
3. Sensor kimia pendeteksi merkuri
Dalam upaya menghadirkan solusi yang lebih praktis, sebuah penelitian di jurnal Arabian Journal of Chemistry tahun 2024 memperkenalkan penggunaan sensor kimia untuk deteksi merkuri. Pendekatan baru menggunakan sensor berbasis nanoteknologi ini memungkinkan deteksi merkuri secara cepat, murah, dan efisien.
Sebaiknya Anda baca juga:
Reaksi merkuri dengan sensor ini menghasilkan perubahan warna dari kuning menjadi hijau, yang dapat ditangkap oleh kamera ponsel pintar. Hasil gambar digital tersebut dianalisis menggunakan matriks Red-Green-Blue (RGB), sehingga konsentrasi merkuri dapat dihitung dengan akurat. Menariknya, metode ini tidak hanya portabel, tetapi juga cepat, dengan waktu analisis hanya sekitar 20 detik.
Lebih dari itu, batas deteksi yang dicapai sangat rendah, yakni 1,9 × 10?? M (setara dengan 0,00381 bpj), menjadikannya salah satu metode yang menjanjikan untuk pengukuran logam berat khususnya merkuri yang batas sensitivitas deteksinya 262,47 kali lebih rinci dibandingkan dengan persyaratan yang diwajibkan oleh pemerintah Indonesia.
Pendekatan ini memberikan harapan baru untuk mempermudah proses pengawasan terhadap produk kosmetik. Dengan biaya yang lebih rendah dan aksesibilitas yang lebih luas, teknologi seperti ini diharapkan dapat membantu pihak regulator untuk memastikan keamanan produk dengan lebih efektif.
Perkembangan industri kosmetik nasional memang cerah. Namun, fenomena ini harus diimbangi dengan regulasi dan pengawasan yang ketat agar tidak merugikan masyarakat dan negara. Pun, sebagai konsumen kita perlu meningkatkan kewaspadaan dalam memilih produk kosmetik yang aman agar tujuan untuk mempercantik diri tetap tercapai dengan risiko yang seminimal mungkin.
Vendra Setiawan, Dosen Farmasi, Universitas Surabaya
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!