Industri Kosmetik Nasional Sedang 'Glowing', tapi Masyarakat Perlu Waspada
📅 Minggu, 12 Jan 2025, 16:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock
Vendra Setiawan, Universitas Surabaya
Tingginya kesadaran kaum muda dalam merawat diri membuat pertumbuhan industri produk kecantikan di Indonesia moncer dari tahun ke tahun. Transaksi kosmetik nasional mencatatkan angka fantastis sepanjang 2018-2022 dengan mencapai Rp13.287,4 triliun.
Kemajuan platform belanja daring juga mendorong pemasaran dan distribusi produk kosmetik yang signifikan, baik di pasar domestik maupun internasional. Karena akses yang kian mudah, merek lokal pun berpeluang lebih besar bersaing di pasar global.
Pendapatan pasar kosmetik Indonesia pada 2024 diproyeksikan mencapai USD1,94 miliar (Rp31,3 triliun) dengan pertumbuhan tahunan 4,86% hingga 2029.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kredibilitas dalam dunia kosmetik sendiri kini tak hanya bergantung kualitas produk, tetapi juga popularitas dan pengalaman pribadi para beauty enthusiast yang sering kali menjadi acuan konsumen. Namun, di tengah derasnya arus informasi, kesadaran akan pentingnya pemilihan kosmetik yang aman, bermanfaat, dan bermutu menjadi kebutuhan utama. Konsumen harus memahami bahwa keamanan dan keandalan produk kosmetik tak hanya terlihat dari kemasannya, tetapi juga dari proses pengujian yang sesuai standar.
Ketergantungan importasi bahan baku tinggi, maklon tumbuh subur
Ceruk bisnis alat kecantikan di Tanah Air tidak hanya berasal dari banyaknya produsen, tapi juga dari kian beragamnya produk yang ditawarkan. Manisnya potensi bisnis kosmetik Indonesia terlihat dari pernyataan Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia mengenai banyaknya potensi konsumen di dalam negeri menjadi fondasi suburnya bisnis kecantikan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Omzet kosmetik di kawasan Asia pada tahun 2023 telah mencapai US$42,75 miliar (Rp691 triliun). Angka ini diprediksi melonjak hingga US$54,96 miliar (Rp888 triliun) pada 2029 mendatang. Lini produk kosmetik, terdiri dari kosmetik muka, mata, bibir, kuku, hingga produk kosmetik umum ramah lingkungan.
Di Indonesia, produk kecantikan turunan yang beredar di pasar nasional menjadi kian beragam yang membuat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) rata-rata menerbitkan 10.555 surat izin edar setiap bulannya (Juli-November 2024).
Meski begitu, menjalankan bisnis kosmetik tidak selalu mudah dan efisien karena ada banyak bahan baku yang harus diimpor. Namun, ada satu metode bisnis kosmetik yang dianggap cocok untuk menuai ceruk pasar kosmetik nasional, yakni maklon.
Maklon adalah jasa pengolahan produk yang dilakukan suatu pihak melalui pihak lain yang memiliki kemampuan memproduksi barang yang diinginkan. Pengguna jasa maklon berhak menjadi pemilik dan memasarkan merek yang diinginkan.
Indonesia setidaknya memiliki 1.039 perusahaan kosmetik yang lebih dari separuhnya merupakan perusahaan pengguna jasa maklon. Peningkatan jumlah pemain industri kosmetik lokal pun didominasi pelaku usaha kecil dan menengah yang mencapai 95%.
Perlu sistem jaring perlindungan konsumen
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!