Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Program Food Estate yang Harmonis dengan Lingkungan dan Masyarakat Adat, Bagaimana Caranya?

📅 Kamis, 09 Jan 2025, 16:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Penataan alokasi lahan untuk berbagai kebutuhan yang berbeda membutuhkan analisis menyeluruh terhadap berbagai tujuan serta pilihan trade-off di antaranya. Pengukuran kesesuaian lahan untuk pertanian juga harus mempertimbangkan faktor iklim, jenis tanah, akses pasar, dan hal lainnya.

Di sisi lain, identifikasi kawasan untuk konservasi atau perlindungan keanekaragaman hayati acap melibatkan penggabungan “peluang dan kendala”. Hal ini mencakup pertimbangan manfaat dan biaya ekonomi serta sosial, pola distribusi spesies, dan kelangsungan hidup populasi.

Proses ini juga bergantung pada analisis mendalam terhadap nilai-nilai sosial, kendala dan peluang dalam pelaksanaan produksi maupun konservasi, dan semua data dari berbagai aktivitas sosial dan budaya di Merauke.

Penilaian ini kemudian kami integrasikan dengan berbagai metode, terutama metode SMCA (spatial multi criteria analysis) untuk memberikan peringkat akhir dari hasil yang memperhitungkan trade-off antara kriteria. Idenya adalah untuk menemukan kompromi terbaik untuk menyeimbangkan produksi dan konservasi. Harapannya, hasil penataan kawasan ini dapat diterima oleh semua pemangku kepentingan, meskipun mungkin tidak sepenuhnya memuaskan aspirasi tertinggi mereka.

Di Merauke, studi kami membuat garis batas (delienasi) kawasan desa, kebun sagu, lokasi adat untuk masyarakat berburu, begitu juga desa dan kawasan lahan basah. Hasilnya, dari sekitar 160 ribu ha konsesi, hanya sekitar 65-70 ribu ha saja yang dapat dijadikan kawasan produksi.

Dua skenario keseimbangan

Riset kami membeberkan dua skenario terbaik yang merupakan hasil musyawarah dari tingkat kampung sampai ke kabupaten. Kedua skenario ini merupakan representasi dari keanekaragaman hayati, karakter spasial (bentuk, konektivitas, serta konektivitas lahan basah dan sumber daya air), produksi, dan masyarakat.

Skenario A: Persyaratan skenario ini adalah kawasan lindung dalam konsesi harus merepresentasikan 30% target keanekaragaman hayati. Kawasan adat (kawasan untuk masyarakat adat berburu) termasuk dalam kawasan konservasi, sedangkan area kampung (permukiman) kami pisahkan dari kawasan perlindungan.

Skenario B: Skenario ini memiliki tata ruang yang lebih kompleks, dengan area hutan produksi lebih besar tapi tetap tak melebihi 40% dari total luas konsesi. Dalam skenario ini, kami tetap menjaga target 30% keanekaragaman hayati dengan mengoptimalkan kawasan adat/kawasan perburuan (ada enam suku) dan kawasan konservasi di dalam lahan konsesi. Area kampung juga kami pertahankan, tetapi terpisah dari kawasan lindung/konservasi.

Tentunya perumusan skenario ini tak lepas dari perdebatan tentang pengambilan keputusan konservasi dan pembangunan konsensus tentang masa depan yang diinginkan sesuai dengan kebudayaan setempat.

Untuk membantu pengambilan keputusan, kami menggunakan metode visualisasi sederhana dua kemungkinan skenario masa depan. Hasil visualisasi kemudian dilihat serta dibicarakan oleh masyarakat lokal bersama pemerintah, perusahaan, dan lain-lain. Oleh karena itu, memang pendekatan ilmiah yang multi, trans, dan interdisiplin sangat diperlukan untuk menghasilkan skenario yang dapat diterima oleh semua pemangku kepentingan.

Kami meminta peserta untuk mengilustrasikan keseimbangan yang ideal antara tanaman campuran, perkebunan, penggembalaan ternak, dan hutan. Visualisasi ini mempermudah pertukaran informasi, mengurangi ketegangan antarpihak, dan mendorong kesepakatan bersama dalam pengelolaan bentang alam.

Lumbung pangan Merauke yang win-win

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Dongkrak Kedatangan Turis, ...
Rona
Sering Melotot Belum Tentu ...
Daerah
RSUD Prambanan Ada Bau-bau ...
Daerah
Siswa Jalani Ujian Kenaikan...

Antisipasi Kemarau, Masa Tanam Dipercepat

37 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Antisipasi Kemarau, Masa Ta...
Daerah
Cukup Bagus Hasil Penanaman...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.