Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tantangan Berat Ekonomi di Semester I 2024 Tercermin dari Penerimaan Negara yang Terkontraksi

📅 Jumat, 03 Jan 2025, 01:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Tantangan Berat Ekonomi di Semester I 2024 Tercermin dari Penerimaan Negara yang Terkontraksi Doc: Koran Jakarta/Wahyu AP
Ket. Menkeu Sri Mulyani

JAKARTA- Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengakui tantangan terberat dalam dinamika perekonomian terutama terjadi pada semester I 2024, yang salah satunya dirasakan pemerintah melalui cerminan penerimaan negara yang terkontraksi pada periode tersebut.

“Kita merasakan semester I (2024) adalah tekanan yang begitu berat. Bagi kami di Kementerian Keuangan, penerimaan pajak SPT yang disampaikan masyarakat bulan Maret untuk orang pribadi dan bulan April untuk perusahaan sudah menunjukkan tanda-tanda koreksi yang sangat dalam,” kata Menkeu dalam acara Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) 2025 di Jakarta, Kamis (2/1).

Seperti dikutip dari Antara, saat kilas balik kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada 2024, ia menyampaikan penerimaan negara pada semester I 2024 mengalami kontraksi yang cukup dalam.

Sebagai informasi, sebagaimana yang telah dilaporkan Sri Mulyani pada tahun lalu, pendapatan negara pada semester I 2024 tercatat sebesar 1.320, 7 triliun rupiah atau terkontraksi sebesar 6,2 persen (year-on-year/yoy).

Penerimaan perpajakan tercatat hanya sebesar 1.028 triliun rupiah. Capaian ini turun sebesar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berbeda dengan kinerja pendapatan negara yang melandai, belanja negara tercatat meningkat 11,3 persen yoy mencapai 1.398 triliun rupiah. Adapun defisit APBN semester I 2024 tercatat sebesar 77,3 triliun rupiah atau 0,34 persen terhadap PDB.

Tantangan Ekonomi

Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Atma Jaya, YB Suhartoko mengatakan, tantangan ekonomi ke depan memang berat, baik eksternal seperti guncangan geopolitik, eskalasi perang dagang dan perubahan kebijakan AS yang berorientasi ke domestik akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stagnan di 5% atau kurang, nilai tukar rupiah yang fluktuatif bahkan melemah.

Dari sisi domestik tampaknya sisi penerimaan pajak yang kontraktif akan berdampak kepada daya ungkit kebijakan fiskal untuk pertumbuhan.  "Kebijakan melakukan prioritas pengeluaran dalam APBN menjadi sesuatu yang harus efektif untuk dilakukan," ungkap Suhartoko.

Pakar ekonomi dari Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), Surabaya, Leo Herlambang, mengatakan, perekonomian 2025 akan bertambah sulit jika perang dagang memanas dan konflik di Timur Tengah dan Eropa masih berlangsung. 

"Tahun 2024 mulai dari awal menunjukkan gejala-gejala yang kurang menggembirakan. Dapat kita lihat dari indikator yang sudah jelas, yaitu indeks harga saham yang menunjukkan perkiraan umum atas kondisi yang ada, dan datanya dimiliki oleh otoritas. Kalau orang market, melihatnya dari ini ada penurunan, daya beli berkurang dan sampai sekarang pun demikian,” ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...

Operasi uji emisi kendaraan di Tangerang

49 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Megapolitan
Pemkot Jakut Vaksinasi Ribu...
Ekonomi
Industri sepatu rumahan kua...

Pelaksanaan program penghapusan bentor

54 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pelaksanaan program penghap...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.