Probabilitas Ekonomi RI Resesi dalam 12 Bulan Semakin Besar
📅 Jumat, 29 Nov 2024, 01:45 WIB | Oleh: Tim RedaksiNamun demikian, terang Huda, tahun ini cukup menantang karena ada faktor rencana kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen yang menyebabkan adanya expected inflation.
“Masyarakat bisa menahan konsumsinya karena khawatir ada kenaikan harga tahun depan sehingga mereka berhemat. Tapi, saya rasa masih bisa tumbuh maksimal di angka 5,01 persen. Expected inflation bisa membuat pertumbuhan ekonomi kuartal IV di angka 4,98 persen,” kata Huda.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, mengatakan pertumbuhan ekonomi yang melambat ditandai deflasi lima bulan berturut turut. “Asalkan jangan bergantung pada konsumsi saja, tetapi harus mendorong investasi dan ekspor,” katanya.
Caranya dengan menciptakan iklim investasi yang kondusif dan memangkas waktu pengurusan izin.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko, mengatakan November dan Desember, biasanya akan ada peningkatan konsumsi, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, tahun kuartal ke dua perekonomian Indonesia 2024 juga ditengarai terjadi penurunan permintaan, sehingga dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Faktor eksternal yang meningkatkan ketidakpastian juga semakin banyak yang juga menjadi rem pertumbuhan ekonomi pada 2024. “Kesimpulannya secara tahunan ekonomi 2024 sedikit mengalami pelemahan dibanding 2023,” pungkas Suhartoko.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!