Genap 70 Tahun, Ini 5 Film Godzilla Kurang Terkenal yang Juga Perlu Ditonton
📅 Sabtu, 23 Nov 2024, 10:25 WIB | Oleh: Tim PenulisTidak adanya kebijakan lingkungan di Jepang menjadikannya salah satu negara paling tercemar di dunia pada akhir tahun 1960-an. Dengan mengabaikan rasa hormat spiritual tradisional terhadap tanah, pengejaran kemajuan ekonomi negara tersebut mengilhami tumbuhnya kesadaran lingkungan dalam film-film Godzilla.
Namun, hal itu juga secara langsung mengkritik generasi muda munafik yang seakan menunjukkan rasa hormat terhadap lingkungan padahal pada akhirnya sama sekali tidak mampu melindunginya.
3. ‘Godzilla vs Biollante’ (1989)
Godzilla vs Biollante dikembangkan dari entri seorang dokter gigi ke sebuah kompetisi cerita yang bertujuan untuk menghidupkan kembali seri tersebut setelah penerimaan Godzilla yang setengah hati pada tahun 1984. Sebagian isi film ini terinspirasi oleh The Little Shop of Horrors (1986).
Sebaiknya Anda baca juga:
Setelah amukan monster di Tokyo, para ilmuwan Jepang dan perusahaan bioteknologi AS yang rakus berebut sel-sel Godzilla untuk mengembangkan tanaman atau senjata yang dimodifikasi secara genetik. Namun, setelah putrinya terbunuh dalam serangan teroris, salah satu peneliti diam-diam menggabungkan bunga mawar—yang diyakininya menyimpan jiwanya—dengan beberapa “sel-G”. Bunga mawar itu kemudian menjadi Biollante, tanaman raksasa yang bermutasi.
Meskipun masih berkaitan dengan energi nuklir—bencana Chernobyl tahun 1986 terjadi selama proses pengembangannya—film ini lebih berfokus pada bioteknologi dan perlombaan global untuk mendominasi.
Industri Jepang berubah pada tahun 1980-an—menjauh dari produksi yang mencemari lingkungan. Deregulasi menyebabkan pertumbuhan besar-besaran dalam bidang farmasi, tetapi di balik ini terdapat ketegangan yang terus berlanjut antara AS dan Jepang.
Sebaiknya Anda baca juga:
4. ‘Godzilla, Mothra and King Ghidorah: Giant Monsters All-Out Attack’ (2001)
Film ini menjadi favorit penggemar dan merupakan versi radikal yang menjelaskan asal usul monster tersebut—mempertemukan kembali Godzilla dengan dua musuh utamanya yaitu dewi Mothra dan naga alien berkepala tiga, King Ghidorah. Ini adalah satu dari sekian kali makhluk raksasa ini dibayangkan sebagai kami, roh pelindung yang biasanya menghuni tempat dan memengaruhi alam.
Peneliti Jepang, seperti Yomota Inuhiko, telah menafsirkan Godzilla dalam film ini sebagai sebuah visi tentang orang-orang yang tewas di masa perang dan rasa bersalah yang ditanggung oleh mereka yang selamat dan menikmati kemakmuran pascaperang.
Jepang telah lama berjuang untuk merenungkan peristiwa perang dunia kedua, dan hal ini juga tercermin secara kontroversial dalam Godzilla Minus One. Dalam film tersebut, mantan tentara diberi kesempatan kedua untuk melawan penjajah yang agresif, setelah kekalahan mereka oleh AS pada putaran pertama.
5. ‘Godzilla: Final Wars’ (2004)
Film edisi perayaan ulang tahun ke-50 ini, yang disutradarai oleh kreator Ryuhei Kitamura, merupakan gabungan dari semua kaij? (istilah Jepang yang berarti “binatang aneh” yang biasanya digunakan untuk menggambarkan makhluk raksasa) karya Toho. Sangat menyenangkan melihat Godzilla Jepang yang sebenarnya menghancurkan upaya terkutuk Hollywood terhadap monster itu di Gedung Opera Sydney. Meskipun demikian, film ini gagal di pasaran dan Toho tidak membuat film Godzilla lagi selama 12 tahun.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!