Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Gerhana Matahari Membunuh Raja Siam

📅 Selasa, 15 Okt 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Gerhana Matahari Membunuh Raja Siam Doc: afp/ Mladen ANTONOV

Raja Mongkut merupakan seorang raja yang mencintai astronomi. Ketika gerhana Matahari yang dinanti tiba, ia sibuk melakukan pengujian perhitungannya yang ternyata akurat. Namun kesibukan ini justru menimbulkan malapetaka baginya.

Sepanjang sejarah umat manusia, terjadinya gerhana merupakan peristiwa yang menakutkan. Bangsa Viking, Maya, Tiongkok kuno, mereka semua gemetar ketakutan ketika tiba-tiba Bulan atau Matahari menghilang dari langit.

Bayangkan menjadi petani atau penggembala biasa dan melihat Matahari menghilang dari langit tanpa peringatan. Berbagai budaya di seluruh dunia sering kali mengaitkan bencana alam dan kematian dini dengan gerhana.

Kematian terkenal yang dikaitkan dengan gerhana terjadi pada beberapa orang penting di zamannya. Mereka adalah Charlemagne dan ahli warisnya, Louis the Pious, putra Nabi Muhammad yaitu Ibrahim Ibnu Muhammad, dan Yesus dari Nazaret selama penyalibannya.

Sam Kean, penulis sains terlaris dan pengarang buku The Icepick Surgeon: Murder, Fraud, Sabotage, Piracy, and Other Dastardly Deeds Perpetrated in the Name of Science, pada laman Science History mengatakan, "Saat ini, kita cenderung mengabaikan kaitan semacam itu sebagai takhayul," kata Kean.

Namun, di kalangan penggemar astronomi, gerhana Matahari yang terjadi bulan Agustus 1868 di Asia tenggara dikaitkan dengan kematian Raja Siam sehingga dikenal sebagai gerhana Raja Siam. Peristiwa ini berperan dalam kematian Raja Mongkut atau Rama IV, yang paling dikenal di Barat sebagai tokoh dalam film musikal The King and I.

Dalam bahasa Siam, raja ini memiliki nama Phra Bat Somdet Phra Poramenthramaha Mongkut Phra Chom Klao Chao Yu Hua. Ia dikenal oleh negara asing sebagai Raja Mongkut yang hidup dari tanggal 18 Oktober 1804 - 1 Oktober 1868.

Ia adalah raja keempat dari Kerajaan Siam (Thailand) di bawah Dinasti Chakri. Ia memerintah dari tahun 1851 hingga tahun 1868. Sampai saat ini, dia adalah salah satu raja yang paling dihormati negaranya karena jasa-jasanya.

Gerhana tersebut memang secara tidak langsung menyebabkan kematian Mongkut. Namun kecintaannya yang mendalam terhadap ilmu astronomi sekaligus membantu menyelamatkan kerajaan itu sendiri dari kehancuran akibat penjajahan bangsa barat khususnya Inggris dan Prancis.

Mongkut lahir di Siam (sekarang Thailand) pada tahun 1804. Pangeran muda itu dipersiapkan untuk naik takhta sejak usia dini dan menurut semua catatan, ia menikmati kehidupan kerajaan. Kemudian untuk semantara ia meninggalkannya kemewahan. Pada usia 19 tahun, ia masuk biara Buddha. Bergabung dengan biara adalah langkah umum bagi para pemuda, sebuah cara untuk mengajari mereka kerendahan hati dan disiplin, yang sebanding dengan pangeran modern yang bersekolah di sekolah militer saat ini.

Namun, masa baktinya sebagai biksu tampaknya ditakdirkan untuk berumur pendek. Ketika ia belajar di biara tersebut ayahnya jatuh sakit dan meninggal dalam waktu satu bulan setelah ditahbiskan. Mongkut pun sepenuhnya berharap bisa naik takhta.

Namun, hidup belum berpihak padanya. Setelah ayahnya meninggal, para penasihat kerajaan dan petinggi dewan pangeran mengabaikan Mongkut muda demi saudara tirinya yang berusia 36 tahun yang bernama Chulalongkorn. Hal ini mungkin untuk menghindari pertikaian dinasti, apalagi Mongkut memang masih cukup muda.

Naiknya Chulalongkorn sebagai raja, menjadikan Mongkut tetap menjadi biksu dan mempertahankan gaya hidup yang keras seperti mengemis makanan, meninggalkan harta duniawi, menghindari kontak dengan perempuan. Hal ini sungguh mengecewakan bagi seorang pangeran.

Di biara ia memanfaatkan waktunya sebaik-baiknya. Ia memimpin serangkaian reformasi di ordo monastik Siam, menanamkan disiplin dan memperketat standar perilaku. Ia juga mulai mempelajari bahasa dan budaya Eropa, sebagian sebagai respons terhadap agresi Inggris Raya dan Prancis yang semakin meningkat di Asia tenggara.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Naomi Siap Hadapi Elise Mertens

59 menit yang lalu | Opik

Olahraga
Naomi Siap Hadapi Elise Mer...
Megapolitan
BMKG Prakirakan Jakarta Ber...

Gelombang Panas Eropa: Menara Eiffel Ditutup Sementara

1.5 jam yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Gelombang Panas Eropa: Mena...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.