Penyerbuk untuk Tingkatkan Panen
Rabu, 28 Agu 2024, 06:25 WIBSebuah tim peneliti yang dipimpin oleh ilmuwan dari Rutgers University-New Brunswick telah menganalisis hasil panen di lebih dari 1.500 ladang di enam benua dan mereka menemukan bahwa produksi makanan penting dan padat nutrisi di seluruh dunia seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan polong-polongan sedang terbatas karena kurangnya penyerbuk.
Hasil penelitian yang dirinci dalam Nature Ecology & Evolution menunjukkan bahwa di berbagai tanaman dan lokasi, sepertiga hingga dua pertiga lahan pertanian memiliki lahan yang tidak berproduksi pada tingkat yang seharusnya karena kurangnya penyerbuk. Fenomena rendahnya hasil panen karena kurangnya kunjungan serangga disebut dengan keterbatasan penyerbuk.
Penelitian ini sangat tepat waktu mengingat kekhawatiran terkini mengenai penurunan kelimpahan serangga secara global.
"Temuan kami menimbulkan kekhawatiran dan optimisme," kata Katie Turo, penulis studi tersebut dan rekan pascadoktoral di Departemen Ekologi, Evolusi, dan Sumber Daya Alam di Rutgers School of Environmental and Biological Sciences. "Kami memang mendeteksi defisit hasil yang meluas. Namun kami juga memperkirakan bahwa melalui investasi berkelanjutan dalam pengelolaan dan penelitian penyerbuk, kemungkinan besar kita dapat meningkatkan efisiensi lahan tanaman yang ada untuk memenuhi kebutuhan nutrisi populasi global," imbuh dia seperti dilansir laman sciencedaily edisi 26 Agustus lalu.
Para ilmuwan mencapai kesimpulan mereka dengan melakukan analisis statistik terhadap lebih dari 200.000 kunjungan lebah untuk membuahi bunga yang terdapat dalam salah satu database paling komprehensif tentang penyerbukan tanaman di dunia. Rachael Winfree, penulis senior studi ini dan seorang profesor di Departemen Ekologi, Evolusi dan Sumber Daya Alam, berkolaborasi dengan beberapa rekan dari Eropa dan Amerika Selatan untuk menyusun database studi penyerbukan tanaman yang paling komprehensif di dunia. Basis data sumber terbuka ini menggabungkan pengamatan lapangan selama tiga dekade terhadap lebah dan penyerbuk lainnya yang mengunjungi tanaman .
Studi ilmuwan Rutgers baru-baru ini tidak berlaku untuk tanaman pangan utama seperti beras dan gandum, yang tidak memerlukan penyerbuk untuk berkembang biak. Namun penyerbukan oleh lebah dan hewan lainnya sangat penting bagi perkembangbiakan apa yang digambarkan Turo sebagai makanan padat nutrisi dan menarik yang kita sukai dan relevan secara budaya seperti buah-buahan, sayur-sayuran, kacang-kacangan, dan polong-polongan.
"Jika Anda melihat daftar tanaman dan memikirkan buah dan sayuran mana yang paling Anda sukai seperti buah beri musim panas atau apel dan labu di musim gugur. Itu semua adalah tanaman yang biasanya perlu diserbuki oleh serangga," tutur Turo.
Penyerbukan adalah proses perpindahan serbuk sari dari bagian bunga jantan ke bagian bunga betina, yang memungkinkan suatu tanaman dibuahi dan menghasilkan biji, buah, dan tanaman muda. Serbuk sari dapat dipindahkan oleh angin, air atau penyerbuk seperti lebah madu dan lebah liar serta serangga lain dan hewan lain, seperti kelelawar.
Penyerbuk mendukung reproduksi sekitar 88 persen tanaman berbunga di dunia dan 76 persen tanaman pangan terkemuka dunia, menurut penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh profesor Rachael Winfree dan ilmuwan lainnya. Lebah umumnya dianggap sebagai penyerbuk paling efektif karena mereka mengunjungi lebih banyak bunga dan membawa lebih banyak serbuk sari dibandingkan serangga lainnya.
Ilmuwan Rutgers mengidentifikasi bahwa tanaman blueberry, kopi, dan apel paling sering terkena dampak keterbatasan penyerbuk. Para peneliti menemukan defisit hasil pada 25 tanaman unik dan di 85 persen negara yang dievaluasi.
Sisi baiknya, Turo mengatakan bahwa para ilmuwan yakin defisit hasil panen saat ini dapat diatasi dengan peningkatan kunjungan penyerbuk yang realistis di seluruh lahan tanaman. Studi ini mengungkapkan bahwa dalam beberapa kasus, sejumlah lebah sudah mengunjungi beberapa lahan. Jika pengelola lahan dapat meningkatkan konsistensi di seluruh lahan dengan hasil tinggi dan rendah, sebagian besar masalah hasil yang diamati dapat diatasi, kata dia.
"Temuan ini penting karena hasil panen, yang mengukur jumlah tanaman yang ditanam per satuan luas lahan, relevan untuk menilai kecukupan pasokan pangan dunia dibandingkan dengan jumlah penduduknya," kata Winfree. "Temuan kami menunjukkan bahwa dengan lebih memperhatikan penyerbuk, petani dapat membuat lahan pertanian menjadi lebih produktif," pungkas dia. ils/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
Asik, Kini Ratusan Pramuwisata Kalbar Terima Tip via QRIS GoPay Merchant
-
Badan Pegal-pegal dan Otot Tak Seimbang? Ini 4 Kebiasaan yang Harus Anda Perbaiki
-
Presiden Prabowo Terbang ke Rusia, Agendakan Pertemuan Khusus dengan Vladimir Putin
-
BI Percaya Diri, Inflasi 2026–2027 Tetap Jinak di Kisaran Target
-
Banjir Bandang Aceh Tengah Hantam Lagi, 2 Jembatan Ambruk dan Desa Terisolasi
-
Tiket Kereta Final Piala Dunia Tembus 2,4 Juta Rupiah, Fans Sebut “Tidak Masuk Akal”
-
Old Trafford Tamat? Bos Proyek MU Buka Suara Soal Kapan Stadion Baru Resmi Dibuka
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.