Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pemerintah Harus Perhatikan Kelas Menengah yang Terus Turun

📅 Rabu, 28 Agu 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pemerintah Harus Perhatikan Kelas Menengah yang Terus Turun Doc: Sumber: BPS - kj/ones

JAKARTA - Pemerintah diimbau agar memperhatikan kalangan kelas menengah untuk menjaga kinerja konsumsi domestik dalam menopang pertumbuhan ekonomi. Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR, Said Abdullah, di Jakarta, Selasa (27/8), mengatakan pertumbuhan ekonomi selalu bergantung pada konsumsi domestik, tapi itu terancam menurun seiring dengan turunnya kelas menengah Indonesia. "Sejak enam tahun lalu, jumlah kelas menengah kita turun delapan juta jiwa. Padahal merekalah sebenarnya kelas penggerak konsumsi domestik," kata Said.

Dalam Rancangan Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (RAPBN) 2025, pemerintah mengusulkan target pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,2 persen. Sementara Said mencatat Indonesia hanya pernah sekali melampaui pertumbuhan ekonomi di atas target itu sepanjang 2015 hingga 2023, tepatnya 5,31 persen pada 2022. Menurutnya, persoalan struktural menjadi faktor yang membuat Indonesia sulit mencapai target pertumbuhan ekonomi.

Ekonomi berbiaya tinggi, ketidakpastian hukum, hingga kualitas sumber daya manusia (SDM) juga disebut sebagai faktor yang menghambat pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, ia mendorong pemerintah agar lebih progresif menyelesaikan berbagai persoalan struktural yang menghambat pertumbuhan ekonomi. Menanggapi hal itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomi (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, mengungkapkan keprihatinannya terhadap penurunan porsi kelas menengah di Indonesia.

Menurutnya, dalam kondisi ideal, peningkatan pendapatan per kapita suatu negara seharusnya diikuti oleh bertambahnya jumlah penduduk kelas menengah. Namun, jika yang terjadi sebaliknya, ini menandakan adanya masalah dalam proses pertumbuhan ekonomi.

"Ketika porsi kelas menengah justru menurun, terutama dalam jumlah yang signifikan, ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak inklusif dan tidak memberikan manfaat yang adil bagi berbagai lapisan masyarakat," ungkap Aloysius. Ia menambahkan, kondisi itu menunjukkan bahwa manfaat dari pertumbuhan ekonomi dan kebijakan pemerintah cenderung hanya dinikmati oleh kelompok atas dan bawah, sementara kelas menengah justru terpinggirkan dan rentan terjerumus ke dalam kelompok ekonomi bawah.

Dia menekankan pentingnya memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan memprioritaskan pembenahan sektor industri manufaktur yang saat ini mengalami deindustrialisasi prematur. "Sektor manufaktur sangat penting karena menyediakan lapangan kerja bagi kelas menengah dan mampu memberikan manfaat pertumbuhan yang lebih merata dibandingkan sektor primer yang berbasis eksploratif atau sektor jasa digital yang cenderung menguntungkan kelompok kecil," ujarnya.

Kontribusi Menurun

Penurunan porsi kelas menengah juga berdampak pada penurunan kontribusi konsumsi mereka terhadap total konsumsi rumah tangga di Indonesia, yang merupakan komponen penting dalam pertumbuhan ekonomi. Selain itu, data menunjukkan bahwa porsi pengeluaran untuk makanan di kalangan kelas menengah justru meningkat, sebuah indikasi kemerosotan kualitas hidup kelas menengah. "Seiring dengan peningkatan pendapatan, porsi pengeluaran untuk makanan seharusnya menurun.

Namun kenyataannya justru sebaliknya, kemungkinan besar akibat kenaikan harga pangan yang terus menerus," jelas Aloysius. Ia juga menggarisbawahi bahwa menurunnya porsi kelas menengah dapat berdampak negatif terhadap penerimaan pajak negara, mengingat kelompok itu merupakan kontributor besar bagi penerimaan pajak.

"Jika beban pajak pada kelas menengah terus meningkat, kemampuan mereka untuk menabung akan menurun karena pendapatan disposibel mereka tergerus," tambahnya. Peneliti Ekonomi Center Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengatakan kelas menengah ini memang tergencet dengan kenaikan harga- harga yang sebenarnya bisa ditahan oleh pemerintah. Direktur Celios, Bhima Yudisthira, mengatakan kalau memang kelas menengah dianggap berkontribusi besar dalam konsumsi rumah tangga, idealnya pemerintah dan DPR mencerminkan keberpihakan dalam rumusan RAPBN 2025.

"Bansos tahun depan jadi yang terendah sejak pandemi. Padahal kelas menengah rentan bisa dijadikan penerima bansos, bukan cuma melindungi mereka yang ada di bawah garis kemiskinan," katanya. Kemudian, kata Bhima, alokasi subsidi pupuk juga berkurang, padahal banyak kelas menengah bergantung ke sektor pertanian.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
DLH Cirebon Kerahkan 9 Truk...
Daerah
Kasus yang Melingkungi Proy...
Daerah
Polres Kerinci Bahas Distri...
Olahraga
Sabalengka di Luar Dugaan D...

Tim Piala Dunia, Maroko Dapat Menjadi Kuda Hitam

59 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Tim Piala Dunia, Maroko Dap...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.