Masyarakat Perlu Membangun Kesiapsiagaan Hadapi Bencana
📅 Rabu, 28 Agu 2024, 03:03 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Andri Saputra
Potensi ancaman gempa megathrust di Indonesia harus disikapi dengan upaya mitigasi secara berkelanjutan yang meliputi pemahaman potensi bahaya yang bisa saja melanda hingga membangun kesiapsiagaan.
JAKARTA - Masyarakat perlu membangun kesiapsiagaan terutama dalam menghadapi bencana alam yang dapat terjadi di mana saja termasuk destinasi wisata. Hal tersebut penting untuk merespons prediksi akan ancaman gempa megathrust yang akan terjadi di beberapa wilayah di Tanah Air.
"Karena megathrust adalah fakta tetapi bagaimana kita bisa meminimalisir risiko yang mungkin terjadi," kata Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Utama, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Nia Niscaya di Jakarta, Selasa (27/8), merespons prediksi gempa megathrust yang disampaikan oleh BMKG.
Sebelumnya BMKG menyebut, salah satu yang terdampak oleh prediksi ini adalah wisata pantai, termasuk kawasan Carita, yang merupakan daya tarik wisata bagi wisatawan dari Provinsi DKI Jakarta dan Banten.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pandeglang Rahmat Zultika menyampaikan, sampai saat ini pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah Banten masih terbilang kondusif.
Sebaiknya Anda baca juga:
Terkait adanya fenomena penurunan jumlah wisatawan di destinasi wisata Banten bukan disebabkan isu megathrust, tetapi karena memang belum masuk suasana musim libur sekolah.
"Kami bersama BMKG telah melakukan upaya mitigasi dan BMKG juga sudah memasang sistem deteksi dini di 22 titik. Kemudian kami memiliki tiga Early Warning System (EWS) atau system peringatan dini yang dipasang di Tanjung Lesung satu, kemudian Pantai Labuan," ujarnya.
Kepala Bidang Mitigasi Tsunami Samudra Hindia dan Pasifik BMKG Suci Dewi Anugrah menambahkan wilayah yang berpotensi gempa megathrust tidak hanya di Indonesia saja, namun negara lain seperti Jepang juga Hawaii.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sehingga harus disikapi dengan upaya mitigasi secara berkelanjutan yang meliputi pemahaman potensi bahaya yang bisa saja melanda hingga membangun kesiapsiagaan.
"Mulai dari identifikasi jumlah wisatawan hingga alur evakuasi yang dilengkapi dengan rambu-rambu evakuasi yang jelas, utamanya di tiap-tiap penginapan atau hotel," katanya.
Gempa Megathrust
Terkait gempa di wilayah DIY, BMKG mencatat dua kali gempa susulan yang dipicu aktivitas deformasi batuan di bidang kontak antar lempeng (megathrust) di wilayah Samudra Hindia, Selatan Gunung Kidul, Senin (26/8) malam pukul 20.20 WIB.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan bahwa gempa bumi susulan itu adalah gempa dangkal. Parameter terkini gempa berkekuatan magnitudo 5,5 dari sebelumnya terdeteksi sebesar magnitudo 5,8 pada pukul 19.57 WIB.
Episentrum gempa bumi tersebut terletak di laut dengan kedalaman 42 kilometer atau pada koordinat 8,85° LS; 110,17° BT, yang berjarak 107 kilometer arah Barat Daya Gunung Kidul. Analisa pemodelan BMKG mendeteksi gempa bumi tersebut berdampak dan dirasakan di daerah Sleman, Yogyakarta, Kulonprogo dan Bantul dengan skala intensitas III-IV MMI.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!