Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Korea Utara Kecam Rencana Strategis Nuklir AS

📅 Sabtu, 24 Agu 2024, 14:02 WIB | Oleh: Tim Penulis
Korea Utara Kecam Rencana Strategis Nuklir AS Doc: Newsweek/KCNA
Ket. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Pyongyang pada tanggal 4 Agustus. Kementerian Luar Negeri Korea Utara menuduh AS mengobarkan ketegangan di Semenanjung Korea melalui simulasi permainan "Iron Mace" terhadap Korea Utara.

SEOUL - Korea Utara pada hari Sabtu (24/8) berjanji akan memajukan kemampuan nuklirnya, menanggapi laporan bahwa Amerika Serikat telah merevisi rencana strategis nuklirnya.

Negara itu akan "meningkatkan kekuatan strategisnya dengan segala cara untuk mengendalikan dan menghilangkan segala macam tantangan keamanan yang mungkin timbul dari rencana revisi Washington", Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) resmi melaporkan.

The New York Times melaporkan minggu ini, rencana AS yang disetujui oleh Presiden Joe Biden pada bulan Maret adalah untuk mempersiapkan kemungkinan konfrontasi nuklir terkoordinasi dengan Russia, Tiongkok, dan Korea Utara.

Rencana yang sangat rahasia itu untuk pertama kalinya mengarahkan kembali strategi pencegahan Washington untuk fokus pada perluasan cepat Tiongkok dalam persenjataan nuklirnya, kata Times.

KCNA mengatakan, Kementerian Luar Negeri Korea Utara "menyatakan kekhawatiran serius dan mengecam keras serta menolak perilaku AS".

Ditambahkan, Korea Utara bertekad untuk terus mendorong pembangunan kekuatan nuklir yang cukup dan andal untuk mempertahankan kedaulatannya dengan kokoh.

Pyongyang dan Moskow telah menjadi sekutu sejak berdirinya Korea Utara setelah Perang Dunia II dan semakin dekat sejak invasi Russia ke Ukraina pada tahun 2022.

Amerika Serikat dan Seoul menuduh Korea Utara menyediakan amunisi dan rudal ke Rusia untuk perangnya di Ukraina.

Pyongyang, yang telah mendeklarasikan dirinya sebagai kekuatan senjata nuklir yang "tidak dapat diubah", telah menggambarkan tuduhan memasok senjata ke Russia sebagai "tidak masuk akal".

Namun, Korea Utara berterima kasih kepada Russia karena menggunakan hak vetonya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada bulan Maret untuk secara efektif mengakhiri pemantauan pelanggaran sanksi, tepat ketika para ahli PBB mulai menyelidiki dugaan transfer senjata.

Tiongkok, yang juga merupakan sekutu utama Korea Utara, menampilkan dirinya sebagai pihak yang netral dalam serangan Russia terhadap Ukraina dan mengatakan pihaknya tidak mengirimkan bantuan mematikan ke pihak mana pun, tidak seperti Amerika Serikat dan negara Barat lainnya.

Namun, Tiongkok merupakan sekutu dekat politik dan ekonomi Russia, dan anggota NATO telah mencap Beijing sebagai "pendukung yang menentukan" perang.

Moskow telah menjadikan Beijing sebagai penyelamat ekonomi sejak konflik Ukraina dimulai, dengan keduanya meningkatkan perdagangan ke rekor tertinggi saat Russia menghadapi sanksi berat dari Barat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daya Beli dan Ketahanan Ekonomi Jakarta Terjaga

31 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Daya Beli dan Ketahanan Eko...
Daerah
Kejati Sumbar Bantah Telah ...
Nasional
Polda Metro Jaya Minta Imig...

Andoni Iraola Bertekad Bangun Liverpool

39 menit yang lalu | Sriyono

Olahraga
Andoni Iraola Bertekad Bang...
Megapolitan
Hari Pertama Sekolah Tergan...
Ribuan Loker Tersedia di Job Fair Kota Jogja, Catat Jadwalnya!

Ribuan Loker Tersedia di Job Fair Kota Jogja, Catat Jadwalnya!

13 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.