Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mencermati Data Ekonomi AS

📅 Jumat, 09 Agu 2024, 10:08 WIB | Oleh:
Mencermati Data Ekonomi AS Doc: ISTIMEWA

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan bergerak terfluktuasi, jelang akhir pekan ini. Pelaku pasar terus fokus terhadap perkembangan data ekonomi di Amerika Serikat (AS) di tengah spekulasi potensi resesi di Negeri Paman Sam.

Pengamat Mata Uang Lukman Leong melihat investor sangat mengantisipasi data klaim pengangguran AS. Hal tersebut seiring spekulasi resesi AS saat ini yang terindikasi dari pelemahan besar pada sektor tenaga kerja di negara tersebut. Namun, dia memperingatkan meskipun rupiah masih dalam tren positif, namun penguatan tajam belakangan ini berpotensi memicu aksi profit taking.

Karenanya, Lukman memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Jumat (9/8), bergerak di kisaran 15.850-16.000 rupiah per dollar AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan, Kamis (8/8) sore, ditutup menguat 141 poin atau 0,88 persen dari sehari sebelumnya menjadi 15.894 rupiah per dollar AS. Penguatan dipengaruhi laju inflasi domestik yang melandai.

"Laju inflasi di dalam negeri terus mencatatkan tren yang melandai hingga Juli 2024," kata Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta.

Pada Juli 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia sebesar 2,13 persen secara tahunan year on year (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya 2,51 persen yoy. Meski laju inflasi melandai, pemerintah akan tetap mewaspadai berbagai risiko yang akan memberikan tekanan pada laju inflasi.

Salah satunya, gejolak harga pangan dan pasokan ke depan, terutama karena masih adanya tantangan cuaca ekstrem berupa musim kemarau yang dapat mempengaruhi stok pangan global dan produksi domestik. Penurunan inflasi secara tahunan pada Juli 2024 terjadi terutama akibat penurunan sebagian besar harga pangan seiring panen yang berlimpah dan kebijakan stabilisasi pasokan, serta turunnya inflasi harga diatur pemerintah.

Di sisi lain, saat ini investor sedang gundah gulana melirik prospek perekonomian AS, seperti tingkat pengangguran yang masih tinggi, juga inflasi yang belum kunjung mereda, sampai ada kekhawatiran bahwa ekonomi AS terancam resesi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Aksi Jual Saham AI AS Mengguncang Wall Street Gingga Asia

28 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Aksi Jual Saham AI AS Mengg...
Daerah
Polda Jabar Tangkap Tersang...

Penataan Ruang Publik Menyambut HUT DKI Jakarta

38 menit yang lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
Penataan Ruang Publik Menya...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.