Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Keberimanan yang Otentik: Bahaya Politisasi Agama Pemecah Persatuan dan Penghancur Peradaban

📅 Rabu, 07 Agu 2024, 15:59 WIB | Oleh: Tim Penulis
Keberimanan yang Otentik: Bahaya Politisasi Agama Pemecah Persatuan dan Penghancur Peradaban Doc: istimewa
Ket. Antonius Benny Susetyo

Oleh: Antonius Benny Susetyo

Pakar Komunikasi Politik

Dalam konteks masyarakat kontemporer yang semakin kompleks, keberimanan yang otentik seharusnya berfungsi sebagai pilar moral dan etika yang kokoh dalam kehidupan sehari-hari. Keberimanan yang otentik bukan sekadar penampilan eksternal atau simbolik, melainkan harus berakar dalam kesadaran mendalam dan penghayatan yang tulus terhadap nilai-nilai spiritual.

Ini merupakan bentuk integritas yang menuntut konsistensi antara keyakinan dan tindakan nyata. Namun, ironisnya, di tengah pusaran politik dan dinamika sosial saat ini, konsep keberimanan sering kali mengalami distorsi mendalam akibat politisasi agama.

Politisasi agama adalah fenomena di mana agama digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan politik. Hal ini sangat berbahaya karena menggeser fokus dari nilai-nilai spiritual dan moral agama menjadi sekadar alat untuk memperoleh kekuasaan. Ketika agama dijadikan sebagai instrumen politik, yang terjadi adalah pembelahan masyarakat berdasarkan afiliasi keagamaan yang sempit.

Perpecahan ini sering kali didorong oleh kepentingan elite politik dan agama yang mengutamakan kekuasaan di atas kepentingan umum. Pada dasarnya, politisasi agama menciptakan konflik di masyarakat. Ketika simbol-simbol agama digunakan untuk tujuan politik, agama kehilangan esensinya sebagai sumber nilai moral dan spiritual. Yang tersisa hanyalah aspek simbolik dan emosional yang mudah dipolitisasi dan dimanipulasi.

Politisasi agama yang merangkum pemanfaatan agama sebagai alat strategis dalam mencapai tujuan politik atau kekuasaan menyebabkan pergeseran mendasar dalam pemaknaan spiritualitas. Fenomena ini tidak hanya menggerogoti esensi ajaran agama itu sendiri, tetapi juga menimbulkan dampak destruktif pada struktur sosial. Akibatnya, perpecahan dalam masyarakat semakin tajam, dan harmoni serta persatuan sebagai elemen kunci dalam peradaban yang stabil dan maju mulai terancam.

Dalam kerangka ini, kita dihadapkan pada tantangan serius untuk merevitalisasi kembali makna keberimanan yang otentik dan mengembalikannya ke jalur yang murni, agar dapat berfungsi sebagai fondasi yang kuat untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, media massa memiliki peran penting dalam mencegah politisasi agama dengan tidak memberikan ruang bagi isu-isu agama yang dimanipulasi untuk kepentingan politik.

Media massa seharusnya menjadi tempat bagi pertarungan ide dan gagasan yang konstruktif, bukan menjadi sarana untuk merusak karakter personal dan memecah belah masyarakat. Media juga harus memiliki keberanian untuk tidak mengekspos isu-isu agama yang dimanipulasi untuk kepentingan politik. Literasi media sangat penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak benar dan provokatif.

Keberimanan yang otentik, di sisi lain, seharusnya menjadi inspirasi dalam tata kelola kehidupan. Orang yang benar-benar beriman akan menunjukkan sikap rendah hati dan tidak akan mengeksploitasi agama untuk tujuan pribadi atau kelompok. Keberimanan yang otentik terwujud dalam perbuatan nyata yang bermanfaat bagi sesama, bukan sekadar dalam simbol atau retorika yang kosong.

Di tengah maraknya politisasi agama, penting bagi kita untuk kembali kepada esensi keberimanan yang otentik. Keberimanan yang tulus dan otentik akan membawa kita pada sikap yang rendah hati, dan penuh kasih. Hal ini sangat kontras dengan sikap sebagian elite politik mengedepankan kekuasaan dan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum dengan politisasi agama.

Para elit politik yang tidak tahu diri sering kali agama dimanipulasi dan mengintervensi media untuk mencapai tujuan mereka. Mereka menggunakan uang dan kekuasaan untuk mencapai tujuan pribadinya, tanpa menyadari bahwa orientasi semata-mata pada kekuasaan dan uang telah mencabik-cabik bangsa ini. Bisa diibaratkan antara mereka, saling menerkam dan menyerang, serta menghilangkan rasa manusiawi.

Dalam konteks ini, penting bagi kita untuk melihat kembali sejarah pahit yang telah dialami umat. Sejarah seharusnya menjadi cermin untuk memperbarui diri dan belajar dari kesalahan masa lalu. Namun, para elite politik dan agama yang terlanjur silau oleh kekuasaan dan uang sering kali melupakan mata hati mereka. Mata hati yang seharusnya menjadi panduan dalam mengambil keputusan moral.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.