Korban Longsor di India Capai 160 Orang, Hujan Hambat Proses Evakuasi
📅 Kamis, 01 Agu 2024, 09:19 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AP
WAYANAD - Hujan deras yang tiada henti dan angin kencang menghambat pencarian korban selamat pada hari Rabu (31/7) akibat tanah longsor yang melanda perkebunan teh India dan menewaskan sedikitnya 160 orang. Sebagian besar korban adalah buruh dan keluarga mereka.
Hujan monsun deras selama berhari-hari telah mengguyur negara bagian pesisir selatan Kerala, jalan-jalan ke daerah bencana distrik Wayanad terhalang material longsor sehingga mempersulit upaya bantuan.
Satu-satunya jembatan yang menghubungkan desa Chooralmala dan Mundakkai yang paling parah terkena dampak hanyut, memaksa tim penyelamat membawa jenazah dengan tandu keluar dari zona bencana menggunakan zipline darurat yang didirikan di atas banjir bandang.
Beberapa orang yang berhasil melarikan diri dari dampak awal tanah longsor terjebak di sungai terdekat yang telah meluap, kata penyelamat sukarelawan Arun Dev kepada AFP di sebuah rumah sakit yang merawat para korban.
"Mereka yang melarikan diri tersapu bersama rumah, kuil, dan sekolah," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perwira polisi senior MR Ajith Kumar mengatakan kepada AFP, sekitar 500 orang telah diselamatkan sejak tanah longsor beruntun terjadi sebelum fajar pada Selasa.
"Masih banyak wilayah yang harus dieksplorasi dan dicari untuk mengetahui apakah ada orang hidup di sana atau tidak," katanya.
Wayanad terkenal dengan perkebunan teh yang melintasi pedesaan perbukitannya dan mengandalkan banyak pekerja untuk menanam dan memanen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejumlah rumah bertingkat berdinding bata yang dibangun untuk menampung para pekerja musiman terendam oleh lumpur coklat yang tebal saat para buruh dan keluarga mereka tidur.
Bangunan-bangunan lainnya tertutup lumpur karena kekuatan tanah longsor yang menyebabkan mobil-mobil, seng, dan puing-puing lain berhamburan di sekitar lokasi bencana.
"Aliran puing-puing yang dahsyat sangatlah dahsyat, sehingga sangat sulit untuk bertahan hidup," kata ilmuwan bumi dari Universitas Hull, Dave Petley, kepada AFP.
"Hal ini diperburuk oleh waktu yakni pada dini hari saat orang-orang sedang tidur dan oleh struktur bangunan yang rapuh sehingga hanya memberikan sedikit perlindungan."
Sebanyak 160 jenazah telah ditemukan sejauh ini, kantor menteri pendapatan negara K. Rajan mengatakan kepada wartawan.
Lebih dari 3.000 orang berlindung di kamp-kamp bantuan darurat di sekitar distrik Wayanad, kata pemerintah negara bagian.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!