Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

BNPT: RAN PE Ke-2 Akan Perkuat Deradikalisasi

📅 Rabu, 31 Jul 2024, 01:35 WIB | Oleh: Tim Penulis
BNPT: RAN PE Ke-2 Akan Perkuat Deradikalisasi Doc: ANTARA/HO-BNPT RI
Ket. Kegiatan Diskusi Kelompok Terarah Tematik Perpres RAN PE Tahun 2025-2029 di Depok, Jawa Barat, Senin (29/7/2024).

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT) menegaskan bahwa Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE) periode ke-2 akan memperkuat kebijakan deradikalisasi dan pemutusan kekerasan (disengagement).

Direktur Bidang Kerjasama Regional Multilateral BNPT Dionisius Elvan Swasono mengatakan BNPT melalui Sekretariat Bersama (Sekber) RAN PE berencana mengevaluasi kebijakan dalam rangka penguatan kebijakan deradikalisasi dan pemutusan kekerasan tersebut.

"Saya berharap kita semua dapat melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang selama ini berjalan sebagai bahan masukan untuk menguatkan kebijakan deradikalisasi dan disengagement dalam RAN PE fase kedua," ucap Dion dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (30/7).

Dalam kegiatan Diskusi Kelompok Terarah Tematik Perpres RAN PE Tahun 2025-2029 di Depok, Jawa Barat (29/7), Dion menjelaskan salah satu strategi baru untuk menguatkan kebijakan deradikalisasi berupa penambahan masa program bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang masih tergolong "merah" atau berpotensi melakukan aksi kembali.

Menurut dia, setiap orang yang sudah menjalani masa hukuman merupakan orang yang sudah melewati program deradikalisasi, tetapi apabila ada pihak yang masih tergolong "merah" maka BNPT akan memberikan penambahan masa deradikalisasi kembali. "Program semacam ini sudah diadopsi oleh negara tetangga kita yakni Australia," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Sub Direktorat Bina Lapas Khusus Teroris BNPT Kolonel Marinir Wahyu Herawan mengatakan salah satu tantangan deradikalisasi yang selama ini dihadapi peserta, yaitu langkah antisipasinya.

Dirinya berpendapat keberhasilan program perubahan ideologi sulit diukur jika sasaran melakukan taqiyyah (berpura-pura). "Ini memang tricky, tapi kami melakukan antisipasi dengan tidak menyebarluaskan metode tes kami dan kami punya tools sendiri," ujar Wahyu.

Sementara itu, Executive Director Yayasan Prasasti Perdamaian Taufik Andire sebagai perwakilan organisasi masyarakat sipil memberikan rekomendasi agar dilakukan peninjauan atas setiap program yang dijalankan.

"Perlu dilakukan review berkala secara reguler untuk menilai berhasil tidaknya program deradikalisasi atau disengagement, baik yang dilakukan oleh kementerian/lembaga, pemerintah daerah, maupun CSO," ujar Taufik.

Adapun diskusi kelompok terarah tersebut merupakan diskusi yang ketujuh dan diselenggarakan dengan tema "Deradikalisasi dan Pemutusan Kekerasan (Disengagement) untuk Rehabilitasi dan Reintegrasi".

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Naomi Siap Hadapi Elise Mertens

35 menit yang lalu | Opik

Olahraga
Naomi Siap Hadapi Elise Mer...

Gelombang Panas Eropa: Menara Eiffel Ditutup Sementara

1.5 jam yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Gelombang Panas Eropa: Mena...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.