Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Candi Pringapus, Sisa Kompleks Percandian yang Hilang

📅 Sabtu, 27 Jul 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Candi Pringapus, Sisa Kompleks  Percandian yang Hilang Doc: Istimewa

Letusan dahsyat Gunung Sindoro pada era Mataram mampu mengubur pemukiman di bawahnya. Candi Pringapus yang merupakan candi perwara, kehilangan candi induknya akibat letusan itu.

Gunung Sindoro dengan tinggi 3.153 meter di atas permukaan laut (mdpl), saat ini merupakan gunung api dengan status level 1 atau normal. Dari 1806 hingga 2011 aktivitasnya berupa letusan kecil seperti letusan abu, letusan rekahan, dan aktivitas vulkanik berupa suara gemuruh.

Letusan Gunung Sindoro yang mendominasi akhir-akhir ini berupa letusan tipe Strombolian. Letusan Strombolian terdiri dari lontaran bara pijar, lapili, dan bom vulkanik, hingga ketinggian puluhan hingga beberapa ratus meter.

Tipe letusan Strombolin mengacu pada letusan yang terjadi di Gunung Stromboli di Italia. Gunung berapi ini memiliki jenis letusan dengan ledakan yang relatif ringan, biasanya memiliki Indeks Ledakan Vulkanik 1 atau 2.

Namun jauh sebelum itu, Gunung Sindoro merupakan gunung api aktif yang memiliki letusan dahsyat. Hal ini ditandai dengan terkuburnya Situs Liyangan yang berada di timur laut gunung ini, tempat peradaban Mataram kuno berkembang.

Situs Liyangan di Kabupaten Temanggung terkubur sedalam 5 hingga 6 meter. Endapan dari situs yang memiliki luas 8,12 hektare ini menurut jurnal berkala Arkeologi (Vol 35/Mei 2015) berupa jatuhan material piroklastik berseling dengan lava dan aliran material, yang berlangsung dalam beberapa fase.

Batuan piroklastik adalah batuan yang terbentuk oleh proses litifikasi bahan-bahan lepas yang dilemparkan dari pusat vulkanik secara erupsi yang bersifat eksplosif. Material ini kemudian kemudian tertransportasi melalui media gas, angin, dan selanjutnya terendapkan di atas tanah yang kering atau dalam tubuh air.

Seperti Situs Liyangan, Candi Pringapus di Desa Pringapus, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, juga tidak lepas dari gempuran letusan Gunung Sindoro. Berada di timur laut gunung ini, ketika ditemukan pada pertama kalinya oleh Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn pada 1844 kondisinya dalam keadaan runtuh namun beruntungnya batuan penyusun candi termasuk reliefnya masih utuh.

Pada 1929, Dinas Purbakala pemerintah Hindia Belanda (Oudheidkundige Dienst) melakukan pemugaran terhadap candi ini. Dua dekade kemudian, dilakukan penelitian mengenai ragam hias Candi Pringapus oleh EB Vogler. Berdasarkan pada inskripsi yang ditemukan di bagian pondasi, Candi Pringapus didirikan sekitar tahun 772 Saka atau 850 Masehi.

Dari berbagai bukti Candi Pringapus kemungkinan adalah candi perwara atau candi pendamping. Nama tersebut diambil merujuk kepada pengawal raja. Biasanya candi kecil ini mengelilingi candi utama yang berada di tengahnya, sehingga kemungkinan bagian dari kompleks percandian yang dipersembahkan untuk Dewa Siwa.

Bangunan candi tersusun dalam tiga tingkat sesuai menggambarkan tiga alam tempat kehidupan para dewa. Bagian bawah adalah kaki candi disebut burloka yang menyimbolkan kehidupan dunia bawah, tempat orang melakukan berbagai dosa.

Meningkat ke atas adalah bhuwarloka tempat orang-orang suci yang terbebas dari dosa. Tempat ini berupa segi empat dengan permukaan lebar yang dipenuhi dengan relief-relief floral dan jambangan yang menggambarkan kesuburan. Ukuran reliefnya menggambarkan pohon dewandaru. Pohon ini dalam diartikan sebagai kayu pembawa wahyu dewa. Ada juga kinara-kinari, sepasang makhluk dari kayangan berbadan berbadan burung dan berkepala manusia. Keduanya dalam pose mengapit pohon tersebut.

Di atasnya lagi swarloka atau alam atas tempat para dewa bersemayam. Tempat ini dihiasi dengan banyak antefik-antefik sebagai hiasan. Setelah bagian ini semestinya ada puncak candi yang disebut dengan kemuncak atau ratna. Namun sayang, batuan penyusun mercu atapnya kini telah hilang.

Lorong pintu masuk menuju relung candi menjorok ke arah barat. Untuk naiknya menapaki 7 anak tangga. Di atas pintu ini berhias wajah kala makara berahang atau berdagu. Hal ini cukup unik karena biasanya ciri khas candi Jawa Tengah memiliki kala makara tanpa dagu serta dua cakarnya menjulur ke depan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Penataan Ruang Publik Menyambut HUT DKI Jakarta

19 menit yang lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
Penataan Ruang Publik Menya...
Daerah
Peringatan Hari Keamanan Pa...
Ekonomi
Program SPHP Kedelai Dukung...
Nasional
Pemerintah Perkuat SDM Mela...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.