Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kerusuhan Politik Global Dipicu Lonjakan Harga dan Utang

📅 Senin, 08 Jul 2024, 00:00 WIB | Oleh:
Kerusuhan Politik Global Dipicu Lonjakan Harga dan Utang Doc: ISTIMEWA
Ket. Ketidakpastian Ekonomi

PARIS - Bagaikan tornado besar yang melanda seluruh dunia dan datangnya tidak bisa diprediksi, mengakibatkan kecemasan ekonomi yang menimbulkan kekacauan politik dan kekerasan di negara-negara miskin maupun kaya.

Di Kenya, sebuah negara yang terlilit utang, protes terhadap usulan kenaikan pajak pada Juni lalu yang mengakibatkan puluhan orang tewas, penculikan demonstran, dan gedung parlemen terbakar.

Pada saat yang sama di Bolivia, di mana warganya mengantre untuk mendapatkan bensin. Seorang jenderal militer memimpin upaya kudeta yang gagal dengan mengatakan bahwa Presiden Bolivia, yang merupakan mantan ekonom, harus berhenti memiskinkan negara.

Di Prancis, setelah berbulan-bulan terjadi blokade jalan oleh petani yang marah atas rendahnya upahh dan lonjakan harga. Dukungan untuk partai sayap kanan melonjak dalam putaran pertama pemilihan parlemen pada tanggal 30 Juni, membawa cap politik nasionalis dan anti-imigrannya yang selama ini dianggap tabu.

Dikutip dariThe Straits Times, penyebab, konteks, dan kondisi yang melatarbelakangi kerusuhan ini sangat bervariasi di tiap negara. Namun, benang merah yang jelas, yaitu meningkatnya kesenjangan, menurunnya daya beli, dan meningkatnya kecemasan bahwa generasi mendatang akan mengalami nasib lebih buruk dibanding generasi sekarang.

Hasilnya adalah warga di banyak negara menghadapi prospek ekonomi suram dan telah kehilangan kepercayaan kepada pemerintah dan mulai melakukan perlawanan. Reaksi keras sering kali menyasar demokrasi liberal dan kapitalisme demokratis, dengan gerakan populis bermunculan di kubu kiri dan kanan.

"Kelesuan ekonomi dan kelesuan politik saling memengaruhi," kata Emeritus Nouriel Roubini, seorang ekonom di Universitas New York.

Dalam beberapa bulan terakhir, ketakutan ekonomi telah memicu protes di seluruh dunia yang terkadang berubah menjadi kekerasan, termasuk di negara-negara berpenghasilan tinggi dengan ekonomi yang stabil seperti Polandia dan Belgia, serta negara-negara yang berjuang dengan utang yang tidak terkendali, seperti Argentina, Pakistan, Tunisia, Angola, dan Sri Lanka.

"Jika kita tidak membangun stabilitas ekonomi di Sri Lanka, kita bisa menghadapi kerusuhan serupa," kata Presiden Sri Lanka,Ranil Wickremesinghe, merujuk peristiwa di Kenya, Kamis (4/7).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Megapolitan
Mau Tawuran, Dua Pemuda Baw...
Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.