Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

BMKG Ungkap Pemicu Hujan Es Meski Kemarau di Depok

📅 Jumat, 05 Jul 2024, 00:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
BMKG Ungkap Pemicu Hujan Es Meski Kemarau di Depok Doc: ANTARA/HO-BPBD Sumatera Selatan
Ket. Arsip Foto - Seorang warga nenunjukkan bongkahan es di Kabupaten OKU Selatan, Sumatera Selatan, Selasa (10/1/2023) sore sekitar pukul 16.20 WIB.

Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan faktor pemicu terjadinya hujan es di Kota Depok, Jawa Barat meski sudah memasuki musim kemarau.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa fenomena hujan es dilaporkan kemarin (Rabu, 3/7) melanda wilayah Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Depok, yang diiringi dengan hujan deras disertai angin kencang.

Berdasarkan analisis tim meteorologi BMKG fenomena tersebut disebabkan adanya awan Cumulunimbus (CB) yang terbentuk akibat daya angkat atau konvektif yang cukup kuat di wilayah Sawangan dan sekitarnya.

Menurut Guswanto, fenomena tersebut sebelumnya diawali dengan kondensasi uap air yang teramat dingin melewati atmosfer di lapisan atas level beku sehingga dengan demikian es yang terbentuk umumnya memiliki ukuran besar.

Kemudian pada saat kumpulan es yang besar di atmosfer turun ke area lebih rendah dan hangat maka terjadilah hujan. Hanya saja, ia menekankan, terkadang tidak semua es akan mencair sempurna dan menjadikannya hujan es, di mana suhu puncak awan CB mencapai minus 80 derajat Celcius.

Menurut dia, dinamika atmosfer skala regional - global yang cukup signifikan juga menjadi faktor pendorong hujan meski status saat ini sudah masuk musim kemarau.

Misalnya seperti aktifnya aktivitas fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin dan Rossby Equatorial di sebagian besar wilayah Jawa. Bahkan juga di Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan sebagian besar Papua.

Namun terlepas masih adanya potensi hujan itu, Guswanto tetap mengingatkan masyarakat jangan sampai mengindahkan bahaya kekeringan ketika musim kemarau yang puncaknya diprakirakan jatuh pada dasarian II Juli - September 2024.

"Jadi alangkah baiknya hujan yang masih ada ini dimanfaatkan untuk menabung air supaya memiliki cadangan saat puncak musim kemarau melanda wilayah kita nantinya," kata dia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Apakah Ada yang Tahu Apa Itu Jelekongism

2 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Rona
Apakah Ada yang Tahu Apa It...

Pelatih PSS: Banyak Sekali yang Harus Dibenahi

3 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Pelatih PSS: Banyak Sekali ...
Olahraga
Marc Marquez Juara Sprint M...
Olahraga
Sinner Mundur dari Shanghai...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.