Saat Es Mencair, 'Zona Kematian' Everest Pun Menghilang
📅 Sabtu, 29 Jun 2024, 02:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/Doma SHERPA
Di lereng Gunung Everest, perubahan iklim telah menipiskan salju dan es sehingga semakin memperlihatkan jasad ratusan pendaki yang tewas dalam mengejar impian mereka untuk mencapai puncak gunung tertinggi di dunia itu.
Di antara mereka yang mendaki gunung Himalaya tahun ini adalah tim yang tidak menargetkan puncak setinggi 8.849 meter, namun mempertaruhkan nyawa mereka sendiri untuk menurunkan beberapa jasad.
Sejauh ini baru lima jasad beku yang belum bisa diidentifikasi berhasil diambil, termasuk satu jasad yang hanya tinggal kerangka, dalam kampanye pembersihan Gunung Everest dan puncak Lhotse dan Nuptse yang dilakukan Nepal.
Ini adalah tugas yang pelik, sulit dan berbahaya, karena tim penyelamat membutuhkan waktu berjam-jam untuk mengikis es dengan kapak bahkan terkadang menggunakan air mendidih untuk melepaskan sesuatu dari cengkeraman es yang membeku.
"Karena dampak pemanasan global, (mayat dan sampah) semakin terlihat seiring dengan menipisnya lapisan salju," kata Aditya Karki, seorang mayor tentara Nepal yang memimpin tim yang terdiri dari 12 personel militer dan 18 pendaki.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lebih dari 300 orang tewas di gunung tersebut sejak ekspedisi dimulai pada tahun 1920-an, delapan orang tewas pada musim ini saja. Masih banyak jasad yang tersisa dan ada pula yang tersembunyi di balik salju atau tertelan di celah-celah yang dalam. Jasad lainnya, yang masih mengenakan perlengkapan pendakian berwarna-warni, telah menjadilandmarkdalam perjalanan menuju puncak. Jasad-jasad itu diidentifikasi dengan sebutan "Si Sepatu Bot Hijau" dan "Si Putri Tidur".
"Ada dampak psikologisnya," kata Karki kepadaAFP. "Orang-orang percaya bahwa mereka memasuki ruang ilahi ketika mereka mendaki gunung, tetapi jika mereka melihat mayat dalam perjalanan ke atas, hal itu dapat berdampak negatif," imbuh dia.
Banyak di antara jasad-jasad itu berada di dalam "zona kematian" di mana udara tipis dan kadar oksigen rendah meningkatkan risiko penyakit ketinggian.
Sebaiknya Anda baca juga:
Satu jasad yang terbungkus es hingga badannya, membutuhkan waktu hingga 11 jam untuk dibebaskan oleh tim penyelamat. Tim harus menggunakan air panas dan kapak salju untuk mengeluarkan jasad-jasad itu.
"Ini sangat sulit," kata Tshiring Jangbu Sherpa, yang memimpin ekspedisi pengambilan jasad di Everest. "Mengeluarkan jasad adalah satu bagian tantangan. Tantangan lainnya adalah menurunkannya," tutur dia.
Topik Kontroversial
Pengambilan jasad di ketinggian merupakan topik kontroversial bagi komunitas pendaki. Selain biayanya amat mahal yang bisa mencapai ribuan dollar, juga dibutuhkan hingga delapan penyelamat untuk membawa setiap jasad. Selain itu kemampuan seseorang untuk membawa beban berat sangat terpengaruh di dataran tinggi.
Namun Karki mengatakan upaya penyelamatan ini amat perlu. "Kita harus membawa jasad-jasad mereka kembali sebanyak mungkin. Jika kita terus meninggalkan mereka, gunung-gunung kita akan berubah menjadi kuburan," ungkap dia.
Sherpa mengatakan bahwa menurunkan satu jasad dari dekat puncak Lhotse setinggi 8.516 meter adalah salah satu tantangan tersulit sejauh ini.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!