Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Cuaca Ekstrem, Kaktus Raksasa Ditanam untuk Cegah Penggurunan di Brazil

📅 Sabtu, 29 Jun 2024, 13:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Cuaca Ekstrem, Kaktus Raksasa Ditanam untuk Cegah Penggurunan di Brazil Doc: AFP/Pablo PORCIUNCULA
Ket. Alcides Peixinho Nascimento berjalan melewati perkebunan mandacaru miliknya.

JUAZEIRO - Kaktus berduri raksasa menjulang tinggi di atas petani Alcides Peixinho Nascimento (70), seorang penduduk Caatinga di Brazil yang sedang dalam misi menanam vegetasi asli dalam upaya menghentikan penggurunan.

"Jika tidak ada undang-undang, maka kita harus mengambil tindakan," kata Nascimento, yang mencoba meregenerasi lahannya dengan menanam mandacaru, kaktus simbolis dari wilayah tersebut yang tingginya bisa mencapai enam meter.

Caatinga membentang di sepuluh negara bagian timur laut, sebuah kawasan unik yang memiliki permadani semak berduri, pepohonan berkelok-kelok, dan tanaman sukulen yang disesuaikan dengan kondisi semi-keringnya.

Keadaannya tidak begitu menarik perhatian jika dibandingkan dengan hutan Amazon yang subur, tetapi vegetasi hutan kering ini memainkan peranan penting dalam menyerap emisi karbon.

LSM MapBiomas melaporkan telah kehilangan 40 persen dari luas permukaan aslinya akibat pertanian, pertambangan, dan pemasangan ladang angin.

Di Caatinga, yang menghadapi periode kekeringan yang semakin parah, para ilmuwan baru-baru ini mengidentifikasi zona kering pertama di Brazil.

"Melestarikan Caatinga berarti menjaga lahan tetap hidup," kata petani Nascimento.

Masyarakat mengadopsi berbagai metode pertanian berkelanjutan untuk menjamin kelangsungan hidup mereka.

Kaktus tahan kekeringan Nascimento menghasilkan buah yang dapat memberi makan hewan dan manusia, dan melindungi tanah dari iklim ekstrem.

Duri mereka mengusir predator dan sering ditanam di sekitar tanaman lain dan spesies asli.

Kelebihan produksi mandacaru dijual ke merek kosmetik Prancis untuk membuat krim dan sabun.

Penjaga Caatinga

Luiz Almeida Santos dari LSM pertanian lokal IRPAA mengatakan, Caatinga dilestarikan di kawasan dimana "komunitas tradisional tinggal" yang mengadopsi praktik pertanian berkelanjutan.

"Mereka adalah penjaga Caatinga".

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Asosiasi Ojek Online: Aturan Bagi Hasil 92:8 Persen Beri Dampak Nyata Pengemudi Ojol
    Preview komentar:
    Saya bingung ojol seperti Grab gojek Maxim itu ...
    Pak presiden jangan percaya lap.bawahan yg ada ojol ...
  • Ketahanan Pangan Diperkuat Rp195,3 Triliun, Mampukah Harga Pangan Ikut Stabil?
    Preview komentar:
    Meskipun fokus RAPBN 2027 ini sangat kuat pada ...
  • Tenun Dinilai Menekraf Harus Ditampilkan Agar Nilai Ekonominya Berkembang
    Preview komentar:
    Langkah strategis Kementerian Ekraf dalam mensertifikasi desain tenun ...
Nasional
HUT ke-81 RI di Monas Penuh...
Daerah
Sepertiga Warga RT Harus Me...

Kapal Pesiar Swasta Dipakai Kemhan Gratis, Begini Faktanya

22 menit yang lalu | Marcellus Widiarto

Nasional
Kapal Pesiar Swasta Dipakai...
Daerah
Korban Gempa M7,7 NTT Capai...

Akses Wisata Ke Bromo akan Dibuka Jika Benar-benar Aman

23 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Daerah
Akses Wisata Ke Bromo akan ...
Kondisi Terkini Pascagempa NTT: 9.290 Warga Masih Bertahan di Pengungsian

Kondisi Terkini Pascagempa NTT: 9.290 Warga Masih Bertahan di Pengungsian

16 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.