Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kebijakan Pangan Bersifat Reaksioner

📅 Kamis, 30 Mei 2024, 08:54 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kebijakan Pangan Bersifat Reaksioner Doc: istimewa

JAKARTA - Pemerintah belum memiliki strategi jitu mengatasi gejolak harga pangan global. Selama ini kebijakan yang ditempuh cenderung bersifat reaksioner sehingga opsinya tinggal impor ketika harga pangan global bergejolak.

Peneliti Ekonomi Celios, Nailul Huda mengatakan, mengacu pada data World Bank, harga komoditas pangan terutama beras naik cukup tinggi pada 2023 dibandingkan 2022. Kenaikan harga tersebut berasal dari fenomena El Nino yang menurunkan produktivitas lahan pangan, utamanya beras.

Dia menambahkan fenomena El Nino bisa diprediksi dan sudah disampaikan pada 2022. "Artinya, pemerintah punya waktu dari tahun 2023 untuk menyiapkan mitigasi pangan menghadapi el nino. Namun kenyataannya kebijakan yang dibuat tidak prudent. Menghasilkan harga pangan yang lebih tinggi," ucapnya kepada Koran Jakarta, Rabu (29/5).

Huda berpandangan kenaikan harga pangan global tidak disikapi dengan peningkatan produksi oleh pemerintah tetapi menunggu harga naik baru bertindak di tingkat konsumen. "Kebijakan kita adalah kebijakan reaksioner, bukan preventif. Ini yang harus diubah," tegas Huda.

Dia menilai pemerintah membuat seperti kebijakan tiba saat tiba akal. Maka yang ditempuh ialah kebijakan yang bersifat reaksioner "Paling mudah dalam kebijakan ini ya impor. Harusnya kebijakan preventif seperti membeli gabah dengan harga tinggi sehingga stok bulog melimpah, petani terpacu untuk berproduktivitas lebih tinggi," tandasnya.

Hanya saja, dari fakta di lapangan, harga Bulog tidak menarik bagi petani, masih kalah dari pihak swasta, sehingga menghambat serapan.

Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti mengatakan, harga pangan dunia memang sedang mengalami kenaikan, tepatnya harga minyak dunia yang naik kemudian berdampak pada harga barang lainnya. "Tetapi kalau kita bisa swasembada pangan sendiri maka harga pangan di Indonesia tidak tergantung harga pangan di global market," ungkap Esther.

Menurut Esther, komitmen swasembada pangan masih sangat lemah. Karena itu, penting bagi Indonesia untuk mengupayakan swasembada pangan.

Langkah Antisipasi

Seperti diketahui, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan beberapa langkah guna mengantisipasi kenaikan harga pangan dunia. Kepala Bapanas Arief Prasetyo mengatakan, realita yang terjadi saat ini harga pangan dunia sedang naik.

Atas dasar itu, Indonesia menurutnya perlu tanggap menangani ini agar lonjakan harga tidak separah di negara-negara lain. "Kalau kita lihat kan hampir semua barang-barang ini naik, hampir semua. Apalagi impor, dollar AS sekarang 16.000 rupiah. Antisipasinya produksi dalam negeri," papar Arief.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
DLH Cirebon Kerahkan 9 Truk...
Daerah
Kasus yang Melingkungi Proy...
Daerah
Polres Kerinci Bahas Distri...
Olahraga
Sabalengka di Luar Dugaan D...

Tim Piala Dunia, Maroko Dapat Menjadi Kuda Hitam

45 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Tim Piala Dunia, Maroko Dap...
Olahraga
Laga Generasi Baru Menuju F...

Tim Piala Dunia, Mampukan Brasil Juara Keenam Kalinya?

57 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Tim Piala Dunia, Mampukan B...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.