Inovasi dan Produktivitas RI Tertinggal di Antara ASEAN-6, Bagaimana Mengatasinya?
📅 Senin, 27 Mei 2024, 09:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock/Kzenon
Chairil Abdini, Universitas Indonesia
Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama dua dekade sejak Krisis 1998 melambat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Padahal, dalam rentang yang sama kontribusi modal dan tenaga kerja dalam perekonomian kita cenderung naik.
Ini nampaknya terjadi karena Indonesia belum memaksimalkan total factor productivity (TFP): ukuran seberapa efisien ekonomi suatu negara atau perusahaan dalam menggerakkan perekonomian dengan mengombinasikan input modal dan tenaga kerja.
Setiap tahun, Asian Productivity Organization (APO) merilis data produktivitas perekonomian negara-negara di Asia dengan input tradisional tenaga kerja, modal dan TFP sebagai indikatornya. Data APO menunjukkan, selama dua dekade setelah 1998, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 4,78%. Ini di bawah dari rata-rata pertumbuhan 20 tahun sebelum krisis yaitu sekitar 6,74%.
Data APO turut menunjukkan kontribusi TFP Indonesia setelah krisis berada di kisaran -0,11%-anjlok dari 0,93% sebelum krisis.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kontribusi TFP positif menandakan suatu ekonomi atau proses produksi yang efisien. Artinya, pertumbuhan output (hasil produksi kegiatan ekonomi) melampaui pertumbuhan input (sumber daya untuk menghasilkan barang dan jasa) yang digunakan untuk memproduksinya.
Sebaliknya, TFP negatif menunjukkan bahwa ekonomi atau proses produksi menjadi kurang efisien dari waktu ke waktu. Ini berarti bahwa pertumbuhan output lebih lambat dari pertumbuhan input.
Dengan kata lain, perekonomian kita menggunakan lebih banyak sumber daya untuk menghasilkan lebih sedikit keluaran.
Sebaiknya Anda baca juga:
Jika tren penurunan pertumbuhan produktivitas dan TFP negatif ini berlanjut, maka perekonomian Indonesia akan stagnan dan terpapar pada berbagai risiko. Kita perlu mengambil berbagai langkah untuk mencegahnya.
Perlambatan pertumbuhan
Inefisiensi perekonomian Indonesia setelah Krisis 1998 terlihat dari perbedaan kontribusi input modal dan tenaga kerja yang signifikan. Data APO menunjukkan bahwa, sebelum krisis, input modal terhadap pertumbuhan sebesar 50%. Ini lebih rendah dibandingkan input modal setelah krisis sebesar 61%.
Hal yang sama juga terjadi pada input tenaga kerja yang sebelum krisis sebesar 36%. Angka tersebut lebih rendah dibanding input tenaga kerja setelah krisis yang sekitar 41%.
Paul Krugman, ekonom kenamaan asal Amerika Serikat, menyebut kondisi ini di dalam bukunya sebagai perspiration economy atau ekonomi yang mengandalkan input "keringat" tenaga kerja dan modal fisik (physical capital), bukannya ekonomi inspirasi (inspiration economy) yang mengandalkan TFP atau inovasi sebagai sumber pertumbuhan.
Pertumbuhan produktivitas yang menurun adalah fenomena global. Namun, patut dicatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sepenuhnya mengandalkan tenaga kerja dan modal. Lain halnya dengan negara-negara maju dan negara-negara ASEAN-6 yang mengandalkan TFP selain dari dua input tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!