Ayo Memanfaatkan Alam Sebagai Penyedia Obat Terlengkap
📅 Senin, 27 Mei 2024, 06:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Sizuka
JAKARTA -Nature in the best healer. Kata-kata bijak dari ahli kedokteran terkemuka Yunani, Hippocrates, itu memiliki relevansi dengan Hari Jamu Nasional karena melestarikan jamu berarti membangun ketersambungan dengan alam. Namun untuk menghadirkan jamu dalam layanan kesehatan formal masih terkendala banyak syarat, sementara kesadaran dan gaya hidup kembali ke alam telah meluas ke seluruh dunia.
Berbekal semangat menjaga eksistensi jamu di tanah air, dicetuskanlah Hari Jamu Nasional pada 27 Mei 2008 oleh Presiden (kala itu) Susilo Bambang Yudhoyono. Lima belas tahun kemudian, menyusul kabar baik dari Komite Konvensi Warisan Budaya Takbenda/WBTB (Intangible Cultural Heritage/ICH) UNESCO yang dalam sidangnya ke-18 di Kasane, Botswana, pada 6 Desember 2023 menetapkan budaya sehat jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.
UNESCO mencatat nilai budaya jamu sebagai salah satu sarana ekspresi budaya dan membangun koneksi antara manusia dengan semesta. Badan PBB yang bergerak di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan itu juga mengakui bahwa budaya sehat jamu mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, berkenaan dengan; Kesehatan dan Kesejahteraan, Produksi dan Konsumsi yang Bertanggungjawab, serta Kehidupan di Darat.
Budaya sehat jamu meliputi keterampilan tradisional dan nilai-nilai budaya yang terkait dengan obat-obatan alami tradisional yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan dan rempah-rempah serta metode pengobatan tradisional yang bertujuan untuk menjaga kesehatan dengan meningkatkan kekebalan tubuh. Budaya jamu diyakini telah ada sejak abad ke-8 Masehi, hal itu terbukti dari relief di Candi Borobudur dan manuskrip kuno seperti Kakawin Ramayana dan Serat Centini.
Atas dua pengakuan itu, keberadaan jamu pun kian naik pamor. Namun demikian, untuk menjadikan jamu sebagai obat formal dalam layanan kesehatan publik tidak serta-merta dapat diterapkan karena proses panjang saintifikasi jamu menjadi obat herbalterstandar (OHT) atau fitofarmaka, yang ditingkatkan dalam bentuk sediaan obat ke arah produk massal komersial.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di bagian hulu ada persoalan bahwa 85 persen sumber tanaman obat merupakan tumbuhan liar dari alam sehingga berdampak pada mutu yang beragam, adulterasi, kepunahan, dan pasokan tidak berkelanjutan. Adapun pelaku produsen tanaman obat didominasi petani pengumpul bukan penanam.
Meniru nenek moyang
Seseorang tak perlu menunggu lama hingga jamu tersedia secara masif di toko-toko obat, diresepkan dokter, dan mengonsumsinya ketika sakit. Sebelum penyakit itu datang, kita pun bisa mengadangnya dengan meniru gaya hidup nenek moyang dalam menjaga kebugaran dan membangun keselarasan hidup bersama semesta.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hidup sehat adalah tentang keseimbangan. Seimbang antara asupan nutrisi yang masuk ke tubuh dengan energi yang dikeluarkan, antara waktu bekerja dan istirahat, pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani atau fisik dan mental, serta seterusnya.
Ada orang yang mengalami sakit pada fisik tapi memiliki mental tangguh dan sikap optimisme tinggi sehingga mampu mengafirmasi diri untuk melawan penyakit dan menyembuhkan tubuhnya. Sementara, ada pula orang yang secara fisik sehat namun mentalnya lemah, miskin motivasi, dan hidup di pojok pesimisme sehingga tubuhnya tampak lunglai tak bergairah seolah berpenyakit berat.
Semboyan "Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat" sesungguhnya dapat berlaku dua arahkarena jiwa yang tangguh akan mampu menegakkan raga dengan perkasa.
Berkacalah pada gaya hidup para nenek kita yang hidup sederhana membersamai semesta. Mereka bekerja di alam, makan minum dari apa yang disediakan alam dan diolah secara tradisional, begitupun dalam upaya menjaga kesehatan dengan memanfaatkan rempah-rempah termasuk akar dan dedaunan untuk meramu jamu. Segala yang bersifat alamiah tentu berterima baik oleh tubuh, maka raga pun menua tanpa banyak penyakit yang menyertai.
Membangun budaya sehat jamu bukanlah perkara sulit, sebab bukan sesuatu yang baru melainkan telah dicontohkan oleh leluhur nenek moyang terdahulu. Apa yang sulit dari sekadar meniru? Kita telah memiliki modal dasar berupa warisan budaya, kearifan lokal, pengetahuan dan ramuan tradisional, potensi tanaman obat (toga), dan sumberdaya hayati lain.
Untuk menjaga bahan baku jamu tersedia secara berkelanjutan dan lebih mudah dijangkau, masyarakat bisa melakukan pemuliaan tanaman obat di pekarangan rumah. Bila luas pekarangan kurang memadai, banyak juga lingkungan masyarakat yang membangun taman toga bersama pada level desa, RW, atau RT. Sejumlah jenis tanaman obat langka atau yang masih berada di alam liar, bisa dicari lalu dikoleksi untuk menjadikannya tetap tersedia dan lestari.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!