Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Waspadai La Nina hingga Juli

📅 Selasa, 07 Mei 2024, 08:24 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Waspadai La Nina hingga Juli Doc: ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/wsj

JAKARTA - Sejumlah kalangan menegaskan perlunya pengelolaan air yang tepat menghadapi masalah perubahan iklim. Gelaran World Water Forum (WWF) di Bali, pada 18-25 Mei mendatang diharapkan melahirkan poin penting soal air.

Peneliti Lingkungan (SLC), Hafidz Arfandi, mengatakan pengelolaan air menghadapi dua tantangan serius, seperti pengendalian air permukaan untuk mengurangi banjir dan pengelolaan air dalam tanah agar tidak terjadi kekeringan sumur-sumur.

"Aspek pengendalian air permukaan mutlak diperlukan disebabkan debit air secara natural akan meningkat seiring perubahan suhu permukaan yang lebih rendah dan arah arus angin yang membawa bibit awan ke darat," ucapnya, Senin (6/5).

La Nina, terang Hafidz, diprediksi akan berlangsung hingga Juli mendatang dan menambah intensitas air hujan hingga 20 persen. "Maka, peran serta lintas stakeholder diperlukan untuk dua hal, pertama, revitalisasi sungai dan saluran drainase, serta memberikan ruang terbuka hijau yang cukup untuk mengantisipasi luapan air bila ingin direkayasa dengan meninggikan volume pintu air," jelasnya.

Menurutnya, inisiatif di DKI Jakarta yang disebut parkir air cukup bagus, tetapi perlu diiringi dengan proses pembendungan air. Hal itu dimaksudkan agar air tidak terkonsentrasi di titik tertentu kalau ada titik permukaan lebih rendah.

"Artinya, arena parkir air juga harus dibarengi dengan rekayasa ketinggian dan sistem buka tutup pintu air. Kedua, mutlak perlu revitalisasi daerah tangkapan air untuk mengurangi sedimentasi di hulu dan juga terjadinya potensi longsoran," ucap Hafidz

Dia memperingatkan tahun ini patut diwaspadai potensi La Nina hingga Juli mendatang yang memicu risiko banjir dan angin puting beliung. "Efeknya karena daerah selatan mengalami pemanasan lebih intensif otomatis aliran panas gerak dari selatan ke utara, efeknya kelembapan dan curah hujan jauh lebih tinggi, dibarengi angin kencang," urainya.

Dalam menghadapi perubahan iklim, lanjutnya, selain mitigasi klasik juga diperlukan program adaptasi atas berbagai perubahan yang terjadi. Dia mencontohkan kasus ekstrem di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), di mana hujan anomali terjadi karena dilewati awan intensif bersamaan dengan jalur badai sehingga memicu banjir besar.

"Meskipun tak berlangsung lama, kerugian atas kerusakan-kerusakan cukup tinggi mengingat yang terkena dampak kawasan padat penduduk dan ekonomi dengan mobilitas tinggi," jelasnya.

Di Indonesia, cuaca ekstrem juga sempat terjadi di Bandung, Jawa Barat, dengan gelombang anginnya diduga sudah mencapai level tornado.

Mitigasi Konkret

Terkait WWF ini, Tim Kunjungan Kerja Reses Komisi III DPR RI melakukan pengecekan persiapan keamanan jelang perhelatan 10th World Water Forum di Bali, pada 18-25 Mei mendatang. Pengecekan tersebut untuk memastikan keamanan dan kenyamanan semua peserta selama acara.

DPR RI ditunjuk sebagai tuan rumah dari Parliamentary Meeting on the Occasion of the 10th World Water Forum. Acara yang bertema Air untuk Kemakmuran Bersama ini akan berlangsung di Nusa Dua, Bali. Adapun khusus selama empat hari untuk pertemuan parlemen, mulai dari 19-22 Mei 2024.

Anggota Komisi III DPR RI, Ichsan Soelistio, berharap World Water Forum di Bali tidak hanya menjadi platform untuk diskusi dan pertukaran ide, tetapi juga merupakan panggung untuk mengedukasi dan menginspirasi tindakan konkret dalam menjaga keseimbangan antara lingkungan dan pembangunan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Luar Negeri
Kenaikan Harga BBM Picu Aks...

Pasar pangan murah menjangkau warga Jakarta

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
Pasar pangan murah menjangk...

Trisakti Bantu Warga Duri Kosambi Olah Sampah

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Megapolitan
Trisakti Bantu Warga Duri K...

Hari Santri Nasional

2 jam lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

2 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.