Kalangan Kampus Serukan Perlunya Menjaga Lingkungan
📅 Senin, 29 Apr 2024, 18:21 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: antarafoto
JAKARTA - Kalangan kampus menyerukan bahwa bumi bukan hanya milik generasi saat ini, tapi juga generasi mendatang karenanya manusia harus bermanfaat bagi lingkungannya.
Demikian benang merah dari Earth Day Festival 2024 yang diselenggarakan Center for Environment, Disaster Resilience, and Sustainability (CEDRS), President University (Presuniv). Diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Bumi ke-43, festival digelar di Kampus Presuniv, Jababeka Education Park, Cikarang, kemarin.
Hadir dalam festival tersebut Wakil Rektor Presuniv Bidang Sumber Daya Prof. Dr. Retnowati, Direktur CEDRS Dr. Yunita Ismail Masjud, Manager Human Resource General Affairs Nippon Steel Dr. Yayan Heryana.
Dosen Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Presuniv Rijal Hakiki mengatakan, kondisi Bumi akan sangat tergantung pada perilaku manusia. "Sudah menjadi fitrah manusia bahwa mereka diciptakan untuk menjadi pemimpin di muka bumi. Meski begitu kurangnya kesadaran terhadap hal ini, termasuk pada memprioritaskan aspek lingkungan dalam kehidupannya, dapat membuat manusia, yang seharusnya berperan sebagai pemimpin di muka Bumi, malah berubah menjadi perusak alam," tegasnya.
Maka, menurut Rijal, kesadaran manusia akan fitrahnya sebagai pemimpin menjadi sangat penting. "Meski begitu kesadaran ini juga harus diimbangi dengan upaya manusia untuk meningkatkan wawasan dan keterampilannya dalam menjaga dan merawat Bumi," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Direktur Kemitraan Lingkungan, Ditjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Jo Kumala Dewi mengatakan, "Mengapa planet dan plastik harus dipertentangkan? Ini karena kita sudah menggunakan plastik secara berlebihan, sehingga memicu terjadinya masalah lingkungan." Maka, melalui tema Planet vs Plastic, Jo berharap ada upaya bersama untuk mengurangi penggunaan plastik yang ditargetkan mencapai sebesar 60% hingga tahun 2040.
Menurut Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) yang dikelola KLHK, sampai dengan tahun 2023, komposisi sampah plastik di Indonesia sudah mencapai 18,3% dari 17,4 juta ton timbulan sampah per tahun. "Lalu, bagaimana mengatasinya? Jika kita berhenti menggunakan plastik, pasti akan memicu kontroversi. Tapi, kalau kita diam saja juga salah," ucap Jo.
Menurut Jo, mungkin saat ini kita belum bisa sepenuhnya "memusuhi" plastik. Katanya, "Dibutuhkan strategi dan kolaborasi untuk mengatasi masalah plastik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara, Yayan Heryana mengungkapkan bahwa sebanyak 40% dari mamalia laut, dan 40% makhluk hidup lainnya, sudah tercemar oleh limbah plastik. "Mungkin makanan dan minuman kita juga sudah tercemar oleh plastik," ungkap Yayan. Jadi, ajak Yayan, mari kita bijak dalam menggunakan plastik.
"Sebagian dari kita mungkin ada yang berpendapat bahwa usia Bumi masih panjang. Hanya bisakah kita memastikan bahwa anak cucu kita dapat menikmati Bumi sebagaimana sekarang ini?," tanya dia.
Pembicara lainnya, Henri Saragih, Head of EHS & CSR PT Mane Indonesia yang memaparkan materi Pengelolaan Limbah Organik Industri menjelaskan tentang konsep Corporate Social Responsibility (CSR) Mane Indonesia dan implementasinya.
"Mane berkomitmen untuk memerangi perubahan iklim melalui sejumlah inisiatif. Di antaranya, penerapan protokol penanganan gas rumah kaca, inisiatif menggunakan renewable carbon hingga net zero commitment," papar Henri.
Untuk mewujudkan target tersebut, ungkap dia, Mane melakukan sejumlah. Di antaranya, menjual produk rendah karbon dan rendah konsumsi airnya, melibatkan para pemasok dalam program CSR, termasuk mengintegrasikan CSR dalam proses bisnis.
Pemerhati lingkungan hidup dari Universitas Padjajaran, Bandung, Bambang Sudiarto menjelaskan tentang pemanfaatan dan pengolahan limbah organik dengan bioteknologi. "Limbah ini ada di mana-mana dan pasokannya berlimpah. Ada limbah rumah tangga, limbah pasar, rumah makan atau restoran, limbah dari pertanian atau peternakan, limbah rumah sakit, limbah perkantoran dan beberapa lainnya," papar Bambang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!