Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Hasto: Angka Perceraian Tinggi Mengancam Ketahanan Keluarga

📅 Jumat, 05 Apr 2024, 06:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Hasto: Angka Perceraian Tinggi Mengancam Ketahanan Keluarga Doc: ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari
Ket. Kepala BKKBN Hasto Wardoyo ditemui usai acara silaturahim BKKBN bersama tim pendamping keluarga, keluarga berisiko stunting, dan masyarakat di kantor BKKBN, Jakarta, pada Selasa (2/4/2024).

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, menyoroti tingginya angka perceraian di Indonesia, yang dapat mengancam ketahanan keluarga.

"Kalaubroken home-nya tinggi, ketahanan keluarganya otomatis lemah, karena indeks pembangunan keluarga itu salah satunya ketenteraman. Kalau perceraian tinggi, ketenteramannya akan turun," ujar Hasto di Jakarta, Selasa (2/4).

Ia juga mengkhawatirkan data perceraian yang semakin meningkat sejak tahun 2020. "Hari ini banyak keluarga yang bagus, tetapi juga banyak yang kurang bagus, karena perceraian di tahun 2020 ke atas, angkanya lebih dari 500 ribu kasus per tahun," kata kepala BKKBN.

Hasto pun menjelaskan ada tiga indikator dalam ketahanan keluarga, yakni tenteram, mandiri, dan bahagia. Jika perceraian meningkat, maka indikator pertama yakni ketenteraman dapat terancam.

"Kalau banyak perceraian, tenteramnya turun, jadi indeks pembangunan keluarga bisa turun kalau banyak perceraian, sedangkan dampak terhadap keluarga sendiri, broken home kan kalau orang tuanya cerai, anaknya tidak akan terurus dengan baik, pengasuhan (parenting) tidak bagus, sedangkan salah satu penyebabstuntingkarena anak tidakhappy, makanan juga enggak bagus," ucap dia.

Sebelumnya, Hasto juga menyebutkan bahwa konflik rumah tangga mesti diselesaikan dengan perasaan, tidak hanya dengan logika. "Konflik di dalam rumah tangga, kalau kita selesaikan hanya dengan logika itu berat, hasilnya pasti kacau, tetapi juga harus diselesaikan dengan perasaan," kata dia.

Kepala BKKBN juga menegaskan sebelum orang tua membahas tentang anak, atau mendidik anak, penting untuk mengkomunikasikan perasaan satu sama lain.

"Oleh karena itu, sebelum menyentuh masalah anak, para orang tua juga perlu belajar menyampaikan komunikasi satu sama lain. Sebagai kepala rumah tangga, suami harus lebih dewasa, bisa menahan emosi, dan istri juga harus bisa memaklumi," ucap dia. Ant/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Olahraga
Alwi Tersingkir dari French...
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.