Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bagaimana Cara Berhenti ‘Overthinking’? Ini Solusi dari Psikolog Klinis

📅 Selasa, 12 Mar 2024, 12:12 WIB | Oleh: Tim Penulis
Bagaimana Cara Berhenti ‘Overthinking’? Ini Solusi dari Psikolog Klinis Doc: ANTARA/Shutterstock
Ket. Kita semua pernah berpikir berlebihan, tetapi beberapa orang lebih sering merenung.

Kirsty Ross, Massey University

Sebagai seorang psikolog klinis, saya sering menemui klien yang mengatakan bahwa mereka bermasalah dengan pikiran-pikiran yang "terus berputar tanpa henti" di kepala mereka, yang sulit mereka atasi.

Rumination (merenung) dan overthinking (berpikir berlebihan) sering kali dianggap sama. Keduanya memang saling terkait tapi sedikit berbeda. Rumination adalah memikirkan hal yang berulang-ulang di benak kita. Hal ini dapat menyebabkan overthinking-menganalisis pemikiran tersebut tanpa menemukan solusi atau memecahkan masalah.

Ini seperti piringan hitam yang memutar bagian lagu yang sama berulang-ulang karena adanya goresan. Sementara alasan kita terlalu banyak berpikir sedikit lebih rumit.

Mewaspadai ancaman

Otak kita terprogram untuk berjaga-jaga terhadap ancaman, membuat rencana untuk mengatasi ancaman tersebut dan menjaga kita tetap aman. Persepsi ancaman tersebut mungkin didasarkan pada pengalaman masa lalu, atau "kemungkinan" yang kita bayangkan bisa terjadi di masa depan.

Kemungkinan-kemungkinan ini biasanya merupakan hasil yang negatif dari pola pikir "Gimana kalau?". Inilah yang kami sebut "hot thoughts"-hal ini memunculkan banyak emosi (terutama kesedihan, kekhawatiran atau kemarahan), yang berarti kita dapat dengan mudah terjebak pada pikiran-pikiran tersebut dan terus memikirkannya.

Karena ini tentang hal-hal yang telah terjadi atau mungkin terjadi di masa depan (tetapi tidak terjadi sekarang), kita tidak dapat menyelesaikan masalahnya dan membuat kita terus memikirkan hal yang sama.

Sebaiknya Anda baca juga:

Siapa yang terlalu banyak berpikir?

Kebanyakan orang pada suatu waktu menemukan diri mereka dalam situasi terlalu banyak berpikir.

Beberapa orang mungkin lebih sering merenung. Orang-orang yang pernah menghadapi tantangan atau mengalami trauma mungkin lebih waspada dan berjaga-jaga terhadap ancaman dibandingkan orang yang tidak pernah mengalami kesulitan.

Pemikir mendalam, orang-orang yang rentan terhadap kecemasan atau suasana hati yang buruk, dan mereka yang sensitif atau merasakan emosi secara mendalam juga lebih cenderung merenung dan berpikir berlebihan.

Selain itu, saat kita stres, emosi kita cenderung menjadi lebih kuat dan bertahan lebih lama. Pikiran kita menjadi kurang akurat, yang berarti kita bisa terjebak pada pikiran lebih dari biasanya.

Menjadi lesu atau tidak sehat secara fisik juga bisa membuat pikiran kita lebih sulit diatasi dan dikelola.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
PBB Desak Perusahaan AI Tra...
Luar Negeri
Liga Arab Kukuhkan Nabil Fa...
Luar Negeri
Trump Teken Percepatan Tekn...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.