Komeng Masuk Senayan, Bukti Efektifnya Strategi Komedi di Dunia Politik
📅 Sabtu, 24 Feb 2024, 13:16 WIB | Oleh: Tim PenulisKomedi ternyata telah menjadi senjata ampuh dalam mengubah proses politik yang sengit menjadi hiburan sejak lama. Firaun Mesir dan Kaisar Cina, contohnya, telah menggunakan pelawak untuk berperan menjaga stabilitas di istana, sambil tetap memperkuat kendali politik. Ini menunjukkan adanya keterkaitan antara politik dan komedi.
Penelitian pun menunjukkan bahwa komedi tidak hanya berkembang di pasar hiburan tetapi juga memainkan peran strategis dalam berbagai isu, termasuk isu politik.
Melalui seni komedi, proses politik yang sengit dapat diubah menjadi panggung interaktif yang memperkuat hubungan antara penguasa dan rakyat serta mempromosikan pemahaman yang lebih mendalam tentang isu-isu yang dihadapi oleh suatu kelompok masyarakat.
Taktik komedi ternyata dapat menjadi alat efektif untuk memenangkan hati masyarakat. Ini karena hal-hal yang dikemas melalui komedi biasanya mendapatkan respons positif dari publik dan dianggap menyenangkan. Dengan adanya gebrakan komedi, politik tidak lagi dianggap sebagai urusan yang membosankan, tetapi menjadi arena yang memberikan keceriaan. Ini bisa berdampak positif, karena bisa membuat masyarakat lebih sadar dengan proses politik dan terbuka akan pentingnya perbaikan dalam hal kebijakan, terlepas siapapun pemimpinnya nanti.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bukan dagelan semata
Kehadiran Komeng di panggung politik bukan sekadar hiburan, tetapi juga menciptakan momentum yang membangun kesadaran pada sistem politik di Indonesia yang layaknya dagelan saja.
Makna dagelan menjadi ungkapan sindiran terhadap situasi politik yang seringkali dianggap sebagai pertunjukan atau sandiwara yang tidak serius. Namun, kita perlu merefleksikan bahwa tetaplah penting untuk memastikan bahwa esensi dari fungsi politik tetap menjadi fokus utama, dan tidak boleh terpinggirkan oleh efek-efek hiburan semata.
Sebaiknya Anda baca juga:
Komeng tidak hanya menciptakan keberbedaan dalam pendekatan kampanye politik, tetapi juga memberikan pelajaran berharga mengenai kekuatan dan daya tarik komunikasi yang bersifat positif.
Viralitas majunya Komeng menjadi wakil rakyat dengan menampilkan persona yang familiar bagi pemilih menunjukkan "mere effect", yakni fenomena psikologis yang lekat dengan efek familiaritas yang menghidupkan suasana akrab. Foto yang ditampilkan Komeng adalah contoh persona yang jauh dari standar formalitas politik.
Dengan memilih taktik komedi, Komeng memberikan contoh bahwa politik tidak selalu harus diwarnai oleh praktik-praktik yang merugikan, seperti money politic, dan justru dapat menciptakan atmosfer yang lebih inklusif-masyarakat tidak hanya menjadi penonton pasif.
Hal ini dapat mendorong adanya redefinisi makna keberhasilan dalam arena politik. Penggunaan pendekatan komedi dapat diiringi dengan pendekatan yang mencerminkan nilai-nilai moral dan integritas, serta menggugah partisipasi masyarakat secara lebih aktif.![]()
Lingga Utami, PhD Student, Universitas Pendidikan Indonesia
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!